Mohon untuk tidak mengupload file materi perkuliahan yang berbentuk pdf, ppt, doc, xls ke Blog Staff UMY -- Silahkan upload file-file tersebut ke E-Learning MEMBACA NERaCA AKTIVA PASIVA – Andy eko wibowo

MEMBACA NERaCA AKTIVA PASIVA

“DUA HAL PENTING YANG INGIN DIKETAHUI OLEH PENGUSAHA :

Jumlah kekayaannya dan usahanya untung atau rugi

Jumlah kekayaannya dapat dilihat dari NERACA AKTIVA PASIVA

Usahanya untung atau rugi dapat dilihat dari NERACA LABA RUGI”

 

————————————————————————————————————————-

Dear para pembaca blog yang setia menunggu tulisan itheng cemani….

kali ini itheng cemani akan berbagi mengenai cara membaca neraca keuangan aktiva pasiva beserta fungsinya.

Banyak pengusaha yang malas membuat neraca keuangan karena tidak tahu pentingnya hal tersebut. Di blog ini akan saya buat seperti kondisi nyata sehingga dapat menggambarkan fungsi dari neraca keuangan secara nyata.

Suatu pengusaha ingin membuat bisnis jualan rokok dengan modal uang 10.000.000.  Dia membelanjakan uang tersebut dengan rincian sebagai berikut :

4 juta untuk uang cash

5 juta untuk stok persediaan (rokok)

1 juta untuk asset tidak lancar seperti gerobak

 

Jika di tuliskan dalam sebuah neraca keuangan, maka akan menjadi seperti berikut :

image

gambar 1. uang cash 4.000.000, piutang tidak ada, persediaan barang 5.000.000, gerobak 1.000.000. Untuk piutang, hutang dagang, hutang bank, biaya penyusutan, dan laba ditahan belum ada, karena baru mulai usaha dan belum mulai jualan.Etalase (gerobak) dan sewa tempat diperkirakan akan rusak setelah satu tahun digunakan, sehingga nanti setelah satu tahun digunakan, harus ganti baru.

 

Margin keuntungan yang akan diambil pengusaha tersebut adalah 10 %. Sedangkan biaya operasional (gaji, bayar listrik, transport belanja/parkir, dll)= 1.000.000/bulan.

 

maka yang akan dilakukan pengusaha tersbut adalah menggelar dagangannya (jualan!!) dengan alur sebagai berikut :

image

 

Setelah satu tahun, maka dilakukan perhitungan stok dan perhitungan seluruh aset

image

sehingga diperoleh   kondisi usahanya adalah sebagai berikut :

uang cash per tanggal saat stok opname adalah 11.000.000, persediaan barang 7.000.000, hutang dagang 2.000.000, gerobak sudah Rp.0 (Harus ganti). Lihat pada biaya penyusutan gerobak ada anggaran 1.000.000, ini digunakan untuk beli gerobak baru.

image

Nah…dari pembacaan neraca keuangan diatas, stelah 1 tahun usaha berjalan, maka kita akan tahu fungsi dari neraca keuangan adalah :

1. dapat mengetahui kondisi harta kita baik dalam bentuk uang, piutang, barang dagangan dan juga hutang dagang. Selain itu, dengan melihat modal awal, maka kita dapat mengetahui laba ditahan jumlahnya berapa. Laba ditahan adalah laba yang digunakan untuk pengembangan usaha kita dan belum diambil). Laba ini dapat diambil jika ingin diambil atau didiamkan untuk pengembangan usaha. Laba ini  yang nantinya akan kita gunakan untuk “bagi hasil” jika usaha merupakan rekanan. Dalam pengalaman saya, tanpa bekerja sama dengan orang lain, maka saya akan mengambil laba tersebut 50 % untuk keuntungan, dan 50 % menjadi  laba ditahan sebagai pengembangan usaha. Jika anda bekerjasama dengan orang lain, maka hitung – hitungan pembagian keuntungan adalah pada  laba ini. Banyak bisnis rekanan yang bubar karena tidak memahami perihal laba ini. Dalam bisnis rekanan, Biasanya 30 % laba tetap ditahan, sisanya untuk bagi hasil.

 

Misal setelah 1, 5 tahun, kondisi usaha menjadi seperti ini :

image

apa yang terjadi dengan perusahaan tersebut ???

Kondisi perusahaan sedang rugi, dan sekarat, karena modal yang 10.000.000 hanya tinggal 6.000.000. Ada beberapa factor yang bisa menjadi penyebabnya. Namun yang jelas, secara matematis pengusaha rugi 6,500.000!!! Harus dicari neh…kenapa bisa rugi seperti ini, bisa jadi kukut klo g dibenahi!!!

faktor yang bisa menjadi penyebabnya antara lain

1) selama 5 bulan omzet tidak lebih besar dari pengeluaran operasional

2) karyawan ada yang mencuri uang atau barang dagangan

3) pengeluaran operasional tidak terkontrol sehingga menggerogoti uang

4) pembelian barang secara tempo  terlalu banyak sehingga menimbulkan hutang dagang yang pada saat pelunasan menghabiskan uang cash dan meninggalkan persediaan yang banyak , padahal omzet kurang dari jumlah pembelian (tidak berlaku pada neraca diatas)

 

Setelah dua tahun, kondisi keuangan menjadi seperti berikut :

image

Usaha mulai menampakkan peningkatan profit daripada dipertengahan tahun yang lalu. Namun, pada tahap ini, Ternyata, perusahaan kesusahan melunasi hutang, Hal ini terjadi akibat uang cash yang dimiliki hanya setengahnya dari hutang dagang. Padahal dia memiliki piutang 10.000.000, untuk itu pengusaha agar tidak kesusahan melunasi hutang harus menagih piutang tersebut agar menjadi uang cash.

 

 

Setelah 3 tahun, maka

image bisa kita lihat, bahwa setelah 3 tahun laba ditahannya adalah 10.000.000, sama dengan modal yang kita gunakan. artinya pada tahun ini kita telah mencapai Balik modal (Pay back period/PBP), artinya jika modal kita ambil, maka usaha akan tetap berjalan.

 

Melihat perjalanan dari 1 tahun, 1,5 tahun, 2 tahun, hingga 3 tahun, maka tidak mungkin laba ditahan tersebut didapat pada tahun pertama maupun kedua, kemungkinan besar laba mulai meningkat dan terlihat adalah pada tahun 2 sampai tahun ketiga. AKAN TETAPI, dari sinilah kita dapat belajar !!! bahwa realitanya, tidak setiap usaha selalu untung, ada pasang surutnya.

dan justru dari sini, kita dapat belajar ternyata sebelum usaha dimulai, kita dapat memperkirakan kapan kita balik modal.

Kapan kita balik modal saat usaha belum dimulai ??? maksudnya ???

Dengan membuat target tiap bulannya kita harus memperoleh laba bersih sekian rupiah, maka kita dapat memprediksi waktu kita dapat balik modal.

 

misal kasus diatas, jika kita ingin balik modal selama 3 tahun, maka kita harus memiliki laba bersih setiap bulannya adalah 10.000.000/(3x12bulan) = Rp. 277.777

Untuk mendapatkan laba bersih sebesar 277..777 dengan kebutuhan operasional 1.000.000/bulan maka laba kotor yang harus diperoleh adalah 1.277.777

dengan demikian, berapa omzet perbulannya jika Margin keuntungan yang akan diambil pengusaha tersebut adalah 10 %  (harga jual= harga beli +laba kotor, sementara laba kotor = 10%harga beli )?

Omzet = total harga beli barang + laba kotor

laba kotor = 10% total harga beli

1.277.777 = 10% total harga beli

1.277.777/10% = total harga beli

12.777.777 = total harga beli

omzet = total harga beli + laba kotor

omzet  = 12.777.777 + 1.277.777

            = 14.055.554/bulan

maka dari itu, pengusaha harus memperoleh omzet setiap harinya : 14.055.554/30 hari = 468.518

dari sini kita dapat mengetahui jika kita ingin balik modal dalam tempo 3 tahun, dengan kebutuhan operasional tiap bulan 1.000.000, maka kita harus memiliki target omzet harian 468.518 atau target omzet bulanan sebesar 14.055.554

Lalu kita sesuaikan, apakah target tersebut realistis? Apakah target tersebut sangat bisa dicapai? Cara mengukur realistis atau tidaknya adalah melihat berapa item barang dagangan yang akan kita jual !!! Misal harga jual barang kita rata – rata adalah 10.000/biji, maka  setiap hari kita harus menjualkan barang rata – rata 47 biji. (468.518/10.000). Realistiskah dicapai? Bagaimana cara mencapainya? Maka disinilah waktunya untuk menyusun strategi marketing agar kita mampu berjualan perhari 47 biji.

Jika tidak realistis target penjualannya? Cobalah di mundurkan lagi waktu balik modalnya.

Misal dengan modal tadi (10.000.000), waktu balik modalnya menjadi 4 tahun.

maka berapa omzet kita perhari? Jika margin keuuntungan yang diambil 10% dan operasional perbulan 1.000.000

laba bersih /bulan = 10.000.000/(4x12bulan) = 208.333

laba kotor /bulan  = 208.333 + 1.000.000 = 1.208.333

laba kotor /bulan = 10% total harga beli  ==> diperoleh dari margin keutungan 10%

1.208.333             = 10% total harga beli

1.208.333 /10%  = total harga beli

total harga beli = 12.083.330

 

 

maka omzet setiap bulannya adalah : total harga beli + laba kotor

                                                          : 12.083.330 + 1.208.333

                                                          : 13.291.663

 

maka omzet setiap harinya yang harus kita capai adalah 13.291.663 / 30 hari = 443.055

 

 

 

 

dari sini kita memperoleh ilmu bahwa kita dapat mengatur usaha kita, kapan kita balik modal dan berapa target penjualan yang harus kita lakukan tiap harinya agar dapat balik modal. Inilah fungsi nomer dua dari neraca keuangan.

 

Suplemen tambahan mengenai Balik modal, titik impas tidak untung tidak rugi, dan % ROI atau sering disingkat BEP, PBP, ROI dapat dibaca secara rumus di alamat http://rs-marjianto.blogspot.co.id/2014/12/pbp-bep-dan-roi.html.

mari kita lanjutkan membahas apa saja yang bisa diketahui dari neraca keuangan.

Setelah 4 tahun, neraca keuangan yang terjadi adalah sebagai berikut:

 

image

Pada kondisi ini, omzet pengusaha rata – rata 2.000.000/hari, akan tetapi akhir – akhir ini pengusaha selalu menolak permintaan pelanggan karena barang banyak yang kosong, mengapa ini terjadi??? Ya…karena persediaan barang hanya 3.000.000, padahal omzet perhari 2.000.000, sehingga persediaan barang sangat kurang, karena satu hari jualan, persediaan tinggal 1.000.000, dan tentunya barang banyak yang habis!!!!

Jika menghadapi kondisi tersebut, tentunya kita harus order barang agar persediaan barang kita dapat bagus sehingga pengusaha tidak selalu menolak permintaaan pelanggan.

pertanyaannya adalah, jika omzet perhari rata rata adalah 2.000.000, agar pengusaha tidak “kepontal – pontal” dalam melakukan order barang, maka pengusaha harus order  berapa juta???

karena uang cash yang ada 14.000.000, jika uang tersebut dibelikan barang semuanya secara cash, maka pengusaha akan melakukan order lagi 7 hari kemudian (14.000.000/omzet perhari = 7 hari). Dengan kondisi finansial yang ada, pengusaha dapat order 7 hari sekali.

Resikonya pada hari itu juga jika dibelanjakan semuanya, pengusaha tidak memiliki uang cash lagi, namun hari itu juga mendapatkan omzet kurang lebih 2 juta.

Jika pengusaha terlalu takut apabila tidak memegang uang cash, Ada alternatif lainnya, yakni membeli barang secara tempo. Karena uang kita 14.000.000, maka agar aman dan tenang, membeli barang secara tempo dapat disamakan dengan uang cash kita yakni 14.000.000. sehingga kondisi neraca keuangan kita adalah sebagai berikut :

image

dari kondisi ini, pengusaha tetap memegang uang 14.000.000 dan memiliki hutang dagang 15.000.000. Jika jatuh tempo hutang dagang sehari, maka pengusaha akan tetap tenang karena memiliki kemampuan melunasinya (14.000.000 + omzet harian (2.000.000). Namun jika jatuh tempo hutang dagang seminggu, maka pengusaha dapat melunasi hutang dagang tersebut dari omzet saja (2.000.000 x 7 = 14.000.000). Yang perlu diingat adalah, dari segi resiko dan tidak dalam kondisi khusus, pembelian barang sebaiknya kurang dari omzet.

dari sini, kita juga dapat menilai, apakah order selama 1 minggu sekali terlalu berat atau tidak? jika terlalu berat, maka berapa kali dalam 1 bulan kita harus order? Agar ringan, 1 bulan order sekali, maka persediaan barang yang harus kita miliki adalah : 2.000.000 x 30 = 60.000.000 .

jika omzet kita memang telah stabil, ada dua alternatif yang dapat kitalkukan :

1. Hutang dagang sebanyak 60.000.000 (tempo berapa hari???)

2. Hutang bank sebanyak 60.000.000 (tempo berapa tahun???),

dari sinilah kita dapat menilai kapan kita harus hutang!!!! yakni ketika nilai persediaan kita tidak mampu mengcover omzet penjualan kita.

pada kondisi ini, jika omzet memang sudah stabil, dan tidak ada kondisi khusus yang membuat bangkrut usaha, maka biasanya dengan semakin bertambahnya nilai persediaan maka omzet juga akan semakin naik.

seberapa besarkah kita diperbolehkan hutang dagang ?? menurut pengalaman bisnis saya, relatif tergantung omzet kita (perputaran uang kita) dan jatuh tempo hutang dagang tersebut. Untuk amannya jumlah hutang dagang = uang cash yang kita miliki.

dan ingat, hutang dalam artian ini adalah hutang produktif = hutang yang menghasilkan omzet lagi bukan hutang konsumtif.

beberapa bacaan yang dapat digunakan dalam memperlincah cara membaca neraca keuangan dapat digunakan sumber website ini http://www.slideshare.net/triysr/memahami-logika-laporan-keuangan-neraca-dan-laba-rugi

 

kunci yang harus dipegang “":

image

————————————————————————————————————————

Dari sini kita akan belajar mengenai BEP (Break event point/waktu dimana pengusaha tidak untung juga tidak rugi) dan Balik modal (waktu dimana pengusaha dapat mengambil modal awalnya tadi dan disaat yang sama perusahaan tetap berjalan).

APa pentingnya BEP dan Balik Modal ??? sebagai dasar menyusun target penjualan!!!

HITUNGAN NILAI MATEMATIS TARGET PENJUALAN BERASAL DARI BEP dan BALIK MODAL ini !!!!

 

suplemen untuk pengetahuan dasar mahasiswa

 

diperoleh dari http://rs-marjianto.blogspot.co.id/2014/12/pbp-bep-dan-roi.html

PBP, BEP dan ROI

Catatan pribadi lagi. Sering kita dengar tentang BEP (Break Even Point), tetapi seringnya BEP diartikan sebagai "balik modal". Banyak di brosur-brosur investasi franchise menggunakan istilah BEP untuk menunjukan "balik modal". Saking banyaknya istilah BEP digunakan, membuat saya ragu dengan pemahaman saya tentang BEP selama ini.
Hasil baca-baca dan browsing-browsing menghasilkan catatan sebagai berikut:
BEP adalah titik dimana biaya operasional setara dengan keuntungan hasil usaha kita. Atau dengan kata lain "impas". BEP berguna untuk kita sebagai:

  1. Perencanaan Laba, berapa minimal unit yang perlu kita jual perhari.
  2. Alat kontrol kita, seberapa baik penjualan kita perhari / perbulan. 
  3. Dasar penentuan harga jual, bersamaan dengan target penjualan unit perhari.

Dengan rumus deskripsi BEP adalah TFC + ( BOU x n) = HJU x n

  • Total Fixed Cost (TFC): Biaya operasional tetap, sebagai contoh: gaji pegawai, sewa lokasi, listrik, dan sejenisnya.
  • Biaya Operasional perUnit (BOU): modal per unitnya/biaya operasional yang diperlukan per unitnya.
  • Harga Jual per Unit (HJU): udah jelas dari namanya kan. 
  • n : jumlah / target jumlah unit yang harus kita jual perhari atau perbulan untuk mencapai BEP

contoh kasus:
Biaya operasional sebuah warung nasgor adalah sbb:

  • Gaji Pegawai Rp. 1.000.000 x 5 = Rp. 5.000.000
  • Listrik Rp. 2.000.0000
  • Air Rp. 500.000
  • Sewa Rp. 6.000.000 / tahun –>Rp. 500.000 / bulan

jadi TFC perbulan adalah: 5.000.000 + 2.000.000 + 500.000 + 500.000 = Rp. 8.000.000. TFC perhari jadinya (30 hari) Rp. 267.000.

Biaya satu piring nasgor contohnya adalah Rp. 5000 (modal beras, bumbu, gas) dan harga jual 1 piring nasgor adalah Rp. 15.000. Ok, mari kita hitung berapa piring nasgor yang harus dijual perhari agar tercapai BEP.
n = TFC / (HJU – BOU).
n = 267.000 / (15.000 – 5000)
n = 267.000 / (10.000)
n = 27 piring.
Jadi untuk mencapai BEP kita harus menjual 27 piring nasgor jika satu bulannya 30 hari.
Bagaimana jika dibisnis retail dengan berbagai macam barang? Nah untuk yang ini terus terang belum nyari detailnya, cuman bisa kita ambil inti dari rumus diatas bahwa HJU – BOU adalah keuntungan kotor penjualan kita.
Kita ambil sebuah studi kasus sebuah apotek dengan 10 pegawai, untuk gaji pegawai perbulan rata-rata Rp. 25.000.000. Biaya listrik, air, telp dan internet kurang lebih Rp. 5.000.000. Biaya amortisasi pembelian showcase Rp. 300.000 dan penyisihan untuk THR pegawai Rp. 1.000.000. Margin penjualan rata-rata adalah 20%. Pertanyaannya, berapa target omset penjualan perbulannya?
TFC = keuntungan kotor
TFC = margin * omset
omset = TFC / margin
omset = (25.000.000 + 5.000.000 + 300.000 + 1.000.000) / 20%
omset = 156.500.000
Jadi Omset perbulan yang diperlukan untuk BEP adalah Rp. 156.500.000  atau Rp. 5.217.000 perhari (30 hari).
Ok, jadi itu sekilas tentang BEP.
PBP (Pay Back Period) adalah analisa berapa lama modal yang kita investasikan akan kembali. Atau dengan kata lain, berapa lama kita bakal balik modal. Semakin kecil nilai PBP semakin baik nilai investasi untuk dilakukan. Rumusnya gampang aja, yaitu:
PBP = total invest / laba bersih
contoh: seorang teman bercerita dia baru saja join sebuah franchise minuman dengan modal Rp. 9.000.000. Perbulan dia mendapat laba bersih rata-rata Rp. 2.500.000.
PBP = 9.000.000 / 2.500.000
PBP = 3.6 atau dibulatkan 4
Jadi dalam 4 bulan dia bisa balik modal. Wow!!
ROI (Return On Investment) atau rentabilitas atau earning power menunjukan kemampuan modal yang kita investasikan pada sebuah usaha untuk menghasilkan keuntungan. Semakin besar ROI, semakin tinggi kemampuan usaha kita untuk mengembalikan modal dan semakin menjanjikan pula usaha kita. Rumus ROI adalah
ROI = (laba bersih / total invest) * 100%
Contoh kasus: investasi yang digunakan untuk sebuah usaha adalah Rp. 800.000.000 dan keuntungan bersih yang didapat adalah Rp. 18.000.000 perbulan.
ROI = (18.000.000 / 800.000.000) * 100%
ROI = 2.25%
Maka nilai ROI perbulannya adalah 2.25% atau 27% pertahun.
Pertanyaannya sekarang adalah, berapa nilai ideal ROI / nilai ROI yang baik?
hasil baca-baca dari browsing-browsing dikit, mohon masukan juga kalo kurang benar.
Baru nemu dua jawaban, ini pun hasil baca dari forum / blog.

  1. ROI idealnya lebih tinggi dari bunga bank.
  2. ROI idealnya lebih tinggi dari bunga pinjaman

Beberapa cara yang dapat kita lakukan untuk meningkatkan ROI:

  1. Meninggikan margin
  2. Meningkatkan penjualan
  3. Menurunkan biaya operasional usaha
  4. Menurunkan modal perunit, contoh mencari suplier dg harga yang lebih murah, dll.

1 Comment on MEMBACA NERaCA AKTIVA PASIVA

  1. Kami adalah sebuah organisasi hukum yang diciptakan untuk membantu
    Orang-orang yang membutuhkan bantuan, seperti bantuan keuangan.

    Jadi jika Anda atau Anda berada dalam kesulitan keuangan di
    kekacauan keuangan, dan Anda perlu uang untuk memulai bisnis Anda
    itu sendiri, atau Anda membutuhkan pinjaman untuk melunasi utang atau membayar Tagihan Anda, memulai bisnis yang baik, atau telah meminjam
    Kesulitan lebih dari bank lokal, hubungi kami hari ini

    E-mail:
    glantpaydayloanfirm@gmail.com

    Aplikasi pinjaman berupa:

    Nama: _________
    Alamat: _________
    Negara: _________
    Pekerjaan: _________
    Jumlah Pinjaman Dibutuhkan: __________
    Tujuan: _________
    pinjaman duration__________
    Penghasilan bulanan: _________
    Telepon: _________

    Silahkan hubungi kami melalui e-mail

    E-mail kami: glantpaydayloanfirm@gmail.com

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*