Mohon untuk tidak mengupload file materi perkuliahan yang berbentuk pdf, ppt, doc, xls ke Blog Staff UMY -- Silahkan upload file-file tersebut ke E-Learning yang bekas yang menghidupkan! (Story Peresmian sekolah gajah wong ledok timoho) – Andy eko wibowo

yang bekas yang menghidupkan! (Story Peresmian sekolah gajah wong ledok timoho)

 

20130124_075327

Es lilin segar yang dikemas dengan tulisan-tulisan elegan menghilangkan dahagaku, membawakan semangat untuk ingin terus berada ditempat ini. Tempat yang menjanjikan surga bagiku. Tempat yang menjanjikan segala keridoan ilahi untuk bekal matiku kelak. Tempat yang menciptakan semua ribuan inspirasi kata yang harus dituliskan. Tempat yang memberikan ku pesona indah tentang kehidupan. Ledok timoho…

Tiga tahun sudah aku berada disini. Dan entah mengapa aku tak bisa lepas dari tempat ini.

Pernah suatu kali aku berusaha untuk  meninggalkan tempat ini, namun sebuah kehidupan  penuh dengan ketidak nyamanan dan mendekati zinalah yang aku jalani. 

Ya…kawan, bagiku! tempat ini adalah sebuah tempat yang di penuhi dengan kebarokahan, tempat dimana nafas keimanan mulai berhembus,  mengechas energi dari Tuhan, serta tempat yang memang telah mengangkat martabat seorang andy dari keterpurukan, mengembalikan kehormatan yang hilang dari sebuah raga. Memang benar demikian adanya dan tidak berlebih. Jika kalian merupakan sahabat – sahabat terdekat, pastilah kalian mengetahui pasang surutnya perjalanan kehidupan dan bagaimana masa – masa ketidak adanya kehormatan dalam diri seorang andy.

Kali ini, ledok timoho akan menjadi tempat yang penuh dengan gegap gempita keramaian. Kedatangan Ibu Pembayun dan Pak Walikota menjadi penyebabnya. Kesibukan gotong royong sangat kentara sebagai bukti keseriusan seluruh elemen masyarakat untuk menyambut kedatangan mereka. Kedatangan mereka kali ini memang begitu indah jika dirasakan, yakni untuk meresmikan sebuah PAUD. Ya…. sebuah PAUD, tempat bermain anak – anak balita sampai usia pra sekolah. Mungkin bagi kalian, Hanya sebuah PAUD!!! Mungkin bagi kalian, peresmian ini adalah sebuah peresmian biasa, datang, sambutan –sambutan, potong pita, tandatangan, foto – foto, tepuk tangan, lalu hiburan, dilanjutkan makan – makan. Tapi tidak bagiku, dan bagi masyarakat ini. Bagiku, PAUD inilah segudang sumber dari sebagian realisasi idealismeku, yakni memutuskan mata rantai pola pikir mengemis dari jiwa orang tua ke anak – anaknya. Dengan pendidikan sejak dini, maka alangkah indahnya, karena segala dogma kebaikan yang ada dalam aturan – aturan kehidupan akan lebih mudah masuk daripada setelah dewasa. Disamping itu, bagiku, dengan adanya PAUD, Orang tua akan lebih fokus untuk bekerja. Masih bagiku lagi, PAUD ini adalah simbol pendidikan yang berkualitas bagi masyarakat yang benar – benar membutuhkan. Bagi mereka? Peresmian ini lebih sekedar dari yang kurasakan.  Peresmian ini merupakan sebuah bentuk keterbela annya akan hak – hak sebagai masyarakat terpinggirkan yang berjuang untuk mendapatkan pengakuan. Bagi masyrakat ini, kedatangan beliau berdua untuk meresmikan “hanya sebuah PAUD” merupakan seuatu hal terpenting untuk mendapatkan pengakuan dari negara bahwa mereka ada dan mereka berdayaguna, bukan sekedar sampah seperti yang orang – orang bermobil katakan. Peresmian ini merupakan sebuah langkah awal, jaminan dari sebuah lembaga yang dinamakan pemerintah dan kesultanan, akan tenangnya kehidupan yang mulai lepas dari bayang – bayang penggusuran.

Dengan berdirinya sebuah PAUD, di atas tanah kasultanan, di resmikan oleh salah seorang pemiliknya sendiri, serta di akui oleh pemimpin kota yogyakarta, maka sebuah simbol akan bayang – bayang ancaman penggusuran yang selama belasan tahun ada di setiap kepala masing – masing orang mulai terbang tak menghinggapi. Ini merupakan sebuah hal luar biasa, hal  yang sangat indah, ditengah – tengah masyarakat tanpa RT, tanpa RW, hanya di naungi oleh sebuah komunitas sosial yang digerakkan oleh berbagai gabungan komunitas. Bagiku, sering kukatakan “sebuah negara di dalam kota Yogyakarta”.

Di sana pula lah, kau bertemu dengan adik – adikku, sekumpulan anak – anak menginjak usia remaja yang tergabung dalam sebuah gank, yang akhir akhir ini kita menyebut sebagai “Roezer (Revolution Squad Muslim Timoho Merdeka)”, dimana aku lah orang luar yang bisa masuk didalamnya, berlaku sebagai guru, kawan, maupun kakak yang mendampingi mereka. Kami diwajibkan untuk ikut berpartisipasi dalam acara penyambutan dan menyanggupi akan memberikan sebuah hiburan dalam acara tersebut. Jauh – jauh hari, kami berencana, menimbang – nimbang, dan memutuskan akan menampilkan apa. Lagi – lagi, seperti yang beberapa waktu lalu aku alami saat mereka memutuskan tempat liburan (baca ceritaku sebelumnya di sini) , semuanya diluar ekspetasiku. Jika dua tahun yang lalu, selalu saja tidak ada kata sepakat dalam sebuah acara yang aku usulkan untuk mereka jalankan, suara yang biasanya terpecah belah, kini…saat aku mulai memancing mereka untuk bermusyawarah dan rapat, aku begitu terkejut, mereka sangat sepakat, sepakat menolak usulan yang aku ajukan untuk mereka lakukan di dalam pertunjukkan itu. Aku mengusulkan sebuah atraksi pencak silat memecah genteng dan batu bata, mereka sepakat menolak usulan itu. Aku mengusulkan untuk membuat sebuah roket dan di luncurkan pada saat acara dibuka, mereka pun beramai – ramai, sepakat menolaknya. Meskipun sepakat menolak semua usulanku, aku sangat bangga dengan mereka, karena dengan kompaknya mereka dalam bersepakat menolak usulanku, artinya bibit bibit kekompakan sebuah organisasi telah ada disetiap jiwa, sedang bermekaran. Terlebih kebanggaanku, tak usai sampai situ, karena saat satu dari mereka mengajukan usul, yang lainnya mengiyakan, langsung menyepakati tanpa berpikir panjang. Sebagai seseorang yang menemani selama hampir tiga tahun dan melihat perkembangan mereka, Bukan main bangganya diriku. Usulan yang disepakati adalah menyanyi dengan iringan musik  dari alat – alat bekas. Sungguh di luar ekspektasi usulan tersebut, karena ini ide tingkat dewa yang sebelumnya, aku dan kawan – kawan KOPIERS lain, saat rapat membahas acara apa yang akan di munculkan dalam festival, sangat pesimis bahwa ide ini akan keluar dari benak mereka. Terlebih, sangat pesimis untuk melatih mereka karena saking susahnya, pasti!!!. Namun kenyataannya, mereka memunculkan ide tersebut.

Dengan wajah inosen, mencoba untuk menahan rasa antusias, Aku iyakan saja usulan ini, aku kompor – kompori kapan akan dimulai latihan. Maka, satu lagi, proses syuro’ mejadi menarik, mereka mulai menyusun jadwal dan rundown tanpa harus di komando. “Minggu pagi, kita nyari alat – alat yang akan digunakan, setelah dapat kita susun alat – alatnya, senin sore latihan perdana”, ujar Sandy. Pembagian pemegang alat – alat secara cepat terjadi, tanpa dikomando, mereka memilih alat – alat musik mereka sendiri dengan celoteh masing – masing. Sangat jauh berbeda dengan pengajaran pendidikan di sekolah – sekolah bahkan diperkuliahan ketika guru atau dosen menawarkan kepada muridnya suatu pilihan atau usulan, yang terjadi hanyalah “diam”.

Minggu pagi, saatnya berekspresi..!!!

AKu tak mau berekspektasi dengan kata lain berharap, takut dikecewakan!. Tapi ternyata, sungguh, pagi ini, hari minggu ini, hati terkagum – kagum akan kekompakkan mereka. Datang pagi – pagi pukul 7, mereka telah menungguku, berkumpul menanti kedatanganku. Padahal aku tahu, hari minggu pagi adalah hari yang sangat disayangkan jika tidak dilalui dengan tidur, aku pun demikian. Namun entah mengapa, roh kami sama dan menyatukan sebuah persepsi, untuk bangun pagi dan mengawalinya dengan semangat kebersamaan membuat suatu karya, sebuah pertunjukkan yang membuktikan keberadaan kami. Tempat tujuan pertama kami adalah rumah Rudi, disanalah segala harta karun barang – barnag bekas tersimpan, karena disanalah tempat usaha bapaknya mengumpulkan rosok mampu memberikan sebuah kebanggaan di mata Tuhan. Kami segera bergerilya, mengangkut berbagai barang bekas yang telah kami tentukan sebelumnya, mulai dari ember, panci, botol kaca, botol milkuad, drum, hingga kaleng blek bekas wafer.20130123_171433 Luar biasa cepatnya, berdampak dari luar biasanya kita berpindah lokasi. Semula, kita akan berlatih di dekat mushola, namun di sekitar mushola penuh dengan orang tua yang sedang gotong royong membangun tempat wudu akhwat yang kini telah dapat dinikmati.

20130121_175239

Bawah kolong jembatan menjadi tempat alternatif disamping mampu secara efektif melindungi kami dari sengatan matahari yang mulai merambat naik.

20130123_161947

Mulanya…. aku menduga, akan sangat sulit dalam pemilihan lagu maupun irama musiknya. Lagi – lagi di luar ekspektasi, dugaanku salah total. Sesosok Ardi dan Sandy mampu menjadi sebuah pemimpin yang mengarahkan musik serta irama – irama yang dimainkan. Rezki yang memegang kaleng blek bekas wafer memberikan sebuah perpaduan suara di luar dugaan, unik tapi tak membuat jenuh, cempreng tapi tak memekakan telinga, perpaduan elegan produksi benda – benda bekas, “yang bekaslah yang menghidupkan”. Mereka memberikan sajian aransemen lagu – lagu indah perkusi karya calon maestro. Mulanya pula, aku kira musik musik yang akan dibawakan adalah musik cinta ataupun musik musik modern yang lagi hits di televisi. Lagi – lagi dugaanku salah. Tanpa aku arahkan, mereka telah paham, bahwa pertunjukkan esok adalah harga mati sebuah eksistensi akan harga diri sebuah team yang semenjak beberapa saat menyebut Roezer. Mungkin pemikiran mereka, jika mereka membawakan musik – musik cinta atuapun musik – musik modern, maka sama artinya mereka dengan pemuda – pemuda alay masa kini, dan tidak pantas dibawakan di depan kedua orang terhormat. Mungkin pemikiran mereka, dengan sebuah penampilan yang benar – benar mampu mewakili harga diri mereka, maka akan jelas jelas terlihat bahwa Roezer berbeda, sehingga mereka dapat berkata, “inilah kami!!!” sesuai dengan slogan yang selalu aku ajarkan dan digembor- gemborkan mereka, “Nakal itu wajar, lelaki!!!tapi harus sembodo !!!”. Tapi, yang tak habis pikir dan benar – benar tak menduga sama sekali,  entah mengapa, lagu- lagu yang mereka pilih adalah berbagai lagu nuansa rohani, tentunya hasil gubahan mereka. Aku benar – benar terharu!! melihat lagu – lagu pilihan mereka yang sama sekali tidak aku arahkan. Aku bangga sekali dengan kalian adik – adikku.

Kawan!! kalian mungkin akan menganggap wajar dan biasa!!tapi tidak bagiku dan bagi teman – teman KOPI lainnya yang telah lama membersamai mereka!!! Siapa yang tidak terharu melihat keindahan ini. Dan disini aku ingin sekali mengatakan kepada teman – teman KOPI, bahwa inilah salah satu buah manis yang bisa kita petik sekarang setelah peluh keringat serta berbagai pengorbanan kalian lakukan.

Latihan berjalan dengan aroma membanggakan bagiku, sebuah hidangan manisnya kebersamaan yang disajikan bersama dengan semangat dari adik adikku menambah semakin bermakna setiap detiknya. Latihan di akhiri dengan kedatangan burjo bawaan Romdon dan Yudi, adik angkatanku di Farmasi.

***

Kombinasi Lagu – lagu dan alunan irama musik telah berhasil di buat dengan apik. Tinggal memantapkan dan melatihnya berkali – kali. Bukan Andy jika dalam setiap penampilan maupun koreografi,  tak berpikir bagaimana agar audience merasakan suatu hal yang membekas, entah merinding ataupun rasa takjup, impresif dan mengesankan. Aku pikirkan berulang – ulang, namun tak tertemukan. Sebuah hal yang harus ada dalam pertunjukkan dimana mampu meninggalkan perasaan agamis serta nasionalis yang mampu membekas dimata para penonton dan tentunya kedua tamu undangan, sebuah hal berbau patriotisme.

Hari demi hari kami berlatih, kian lama, lagu dan alunan irama kian mantap. kian galau pula aku, karena tak ku temukan yang aku cari.

Kesibukan gotong royong pun semakin lama – semakin menguat, menambah atmostfier tempat ini menjadi sebuah area yang belum pernah aku rasakan semenjak aku disini. Gairah masyarakat nampak begitu kentara, wajah wajah bahagia dan optimis berada di raut setiap orang, bekerja sama!!. Orang – orangan sawah yang dibuat dengan jumlah puluhan dimana akan ditempelkan disetiap sudut area dengan berbagai tulisan menjadikan aroma gotong royong semakin terasa. Ibu – ibu mulai menyiapkan calon hidangan seperti ketelo pohon, kacang, ubi, dan lain sebagainya. Bapak – bapak membuat tenda, sebagian membuat orang – orangan sawah, sebagian lagi menganggkut dipan calon panggung. Anak – anak dan balita tak ikut ketinggalan membantu apa yang bisa dibantu, bahkan balita pun ikut berkontribusi dengan mengecat orang – orangan sawah.

20130123_17331220130122_16035720130122_16040820130122_16041920130122_16044920130122_16050820130122_161206

 

Aku?? Aku semakin gundah, karena hal yang aku cari belum tertemukan, sebuah hal yang harus ada dalam penampilan kami nantinya. Sebuah hal yang mampu membuat bergetar para penonton dan juga kedua tamu terhormat.

Hingga, Dua hari menjelang festival, sebuah gagasan aku temukan setelah membaca tulisan di beberapa orang – orangan sawah yang  masih dicat. Beberapa tulisan yang mengindikasikan akan sebuah keadilan yang mereka tuntut.

20130123_17345920130123_17351020130123_17305920130123_17311120130123_17313920130123_17315020130123_17320720130123_17324320130123_17332920130123_17333920130123_17335020130123_17340520130123_17341920130123_17342920130123_17343820130123_173449

Gagasan inilah yang akan membuat semua penonton bergetar dan berdiri bulu kuduknya di penampilan kami, dua hari kedepan. Sebuah surprice bagi masyarakat luas, dan akan menjadi sebuah kesan mendalam bagi kedua orang penting tersebut. Rasanya, hari H akan menjadi penampilan kami yang penuh bintang gemilang, membuat atmosfir area panggung bergetar merasakan jiwa nasionalis yang terpancarkan dari scene – scene sensasional namun elegan yang kami buat.

Semangat kami dalam berlatih membara, makentar – kentar jika boleh di hiperboliskan. Lebih lebih setelah aku memasukkan ide tersebut didalam rangkaian pertunjukkan yang kami buat. Rasa kebanggaan anak anak sangat besar dan sangat ingin segera menunjukkan penampilannya di acara esok. Kami yakin akan mampu membuat bergetar Ibu pembayun dan Pak walikota, setidaknya itu keyakinan kami saat itu!!!

***

Jangan dibayangkan tentang panggung setinggi 2 meter dengan soundsistem 500 MW. Jangan dibayangkan datangnya artis ibukota untuk menyembut kedatangan kedua tamu terhormat tersebut. Jangan dibayangkan karpet merah serta tabuh tabuhan rebana seperti di TV – TV sinetron kabayan ataupun betawi yang muncul saat “yang terhormat” datang. Dan juga, jangan dibayangkan kedatangan beliau – beliau itu untuk meresmikan sebuah  PAUD bertingkat 2, dengan segala fasilitas elit yang ada.

Panggung kami, tak lebih dari 30 cm tingginya, berkarpet biru, berbacground hitam lutuk dengan tulisan dari kertas bekas yang dicat.

“Yang bekas yang menghidupkan”

20130124_080244

Hiburan kami, tak lebih dari sekumpulan komunitas penghibur amatir yang didatangkan dari tempat – tempat serupa seperti daerah kami.

“Yang bekas yang menghidupkan”

20130124_091326

Bukan karpet merah yang kami berikan, hanyalah sebuah tanah bersih karena selalu tersapu diberi tenda yang dibawahnya diletakkan tempat duduk . Hanyalah tempat duduk pinjaman entah dari mana, aku tak tahu, yang jelas,kami berusaha untuk memuliakan tamu dengan sebaik – baiknya meskipun tanpa karpet merah.

“Yang bekas yang menghidupkan”

20130124_085252

dan PAUD kami, adalah berisikan segala benda – benda daur ulang yang telah di kreasikan oleh anak anak PAUD sehingga menjadi indah dan menarik

“Yang bekas yang menghidupkan”

20130124_08013120130124_080143

20130124_080313

20130124_080211

 

 

Alunan pesinden jawa membuka acara dengan saling tanggap antara pesinden wadon dan pesinden lanang. Selang beberapa saat, musik berhenti menjadikan suasana sejenak sunyi. Tiba – tiba suara ledakan bergema, yang ternyata suara pecut dari salah satu penari jatilan turonggo wiwoho. Kami terlena. Terlena dengan alunan gamelan pelog slendronya, terlena dengan tarian maupun para penarinya. Terlena, sampai – sampai kami lupa, bahwa kamilah nanti yang juga akan menjadi bintang di acara ini. Sungguh, jika boleh dikatakan, kami kalah sebelum tampil. Mengapa? Karenya keyakinan akan bagusnya penampilan kami musnah begitu saja melihat alunan tabuhan jatilan yang sangat matang dan lengkap. Sementara kami, hanya bermodalkan alat – alat bekas. Kami sepertinya kalah 1 : 0. Ditambah lagi dengan peserta hiburan lain yang berseragamkan lengkap, bahkan ada yang diberi dandanan segala. Melihat ini semua, kami menjadi kalah telak, benar benar telak. Kami mulai bertanya, apakah kami bisa menjadi bintang di acara ini dan menggetarkan hati setiap penonton seperti yang kami harapkan??

Muncullah seorang pembesar hati berjiwa pemimpin, Ardi dan Sandy. Mereka berujar, “lho…kita ini yang paling baik, kita ini hebat, ledok timoho itu identik dengan pendayagunaan barang bekas, yo ra!!! Ingat slogan kita, Yang bekas yang menghidupkan!!!”. Dari situ hati kami terbesarkan. Entah siapa yang mengawali, kami membentuk lingkaran kecil, dan berdoa di pimpin oleh Ardi. Usia berdoa kami mencoba untuk tos. "serempak berkata, “no leader just together,…roezer…roezer..roezer…yes!!!!!” Tos tersebut membangkitkan semangat kita, paling tidak selama lima menit, karena suasana menjadi lebih tidak kondusif.

Rencana tampil, kita ada di urutan kedua setelah sambutan dari Om Bembeng, Kepala Komunitas Ledok Timoho, TABAAH, satu – satunya komunitas yang memiliki payung hukum, tempat naungan dari komunitas seperti KOPI yang belum memiliki payung itu. Namun, karena acara jatilan berlangsung lebih lama jauh dari perkiraan, dan Ibu pembayun jam 10.00 harus sudah meninggalkan area, maka mundurlah penampilan kami. Pembukaan di percepat. Sambutan Pak walikota yang dilanjutkan dengan pembukaan festival di majukan, padahal acara tersebut seharusnya berada setelah penampilan kami. Kami masih merasa bisa menggetarkan hati para penonton khususnya pak walikota dan ibu pembayun dikarenakan penandatanganan monumen peresmian oleh beliau belum dilakukan. Dengan demikian, kami dapat memastikan, pasti mereka belum akan beranjak pergi sebelum melihat penampilan kami. Akan tetapi, kepanikan semakin bertambah, baik diriku maupun dari raut wajah adik – adik yang telah siap sedari tadi berada di barisan masing – masing untuk naik kepanggung karena semula telah di kode MC.  Wajah kami menjadi pucat pasi, karena ternyata MC tidak memanggil kami, justru mempersilahkan ibu pembayun untuk menandatangani monumen peresmian. Semakin pucat pasi, karena aku nyeletuk ke mereka, “wa…yo wis., mesti bar tanda tangan, potong pita, masuk ke PAUD, dan pasti langsung pamitan”. Jika itu yang terjadi, maka kacaulah segala persembahan yang akan kami tampilkan. Makin lama, celetukanku makin terbukti, makin pucat pasi pula wajah kami. Prosesi tandatangan ibu pembayun terjadi, penonton bubar mendekati ibu pembayun. MC malah justru memanggil kami untuk tampil disaat Ibu Pembayun mulai menuju PAUD, dan penonton mengikuti.

“JEDENG!!!!, Lha yang mau lihat siapa…wong Ibu pembayun di ikuti pak walikota pada di dalam ruang PAUD!!”, Ujarku dan di iyakan anak – anak lain. Akhirnya kita kembali bubar dari formasi barisan yang telah siap masuk ke panggung. Duduk – duduk di belakang panggung, sambil sedikit kuciwo karena pasti tidak akan jadi mengadakan penampilan tersebut.

Ibu pembayun memotong pita di pintu masuk, penonton bertepuk tangan. Kami? makin pucat sepasi pasinya. Ibu Pembayun masuk bersama pak walikota, penonton melongok melallui sela – sela jendela mencoba mengamati ibu pembayun yang menjadi pusat perhatian. Kami? yang awalnya berdiri sekrang berjongkok, yang berjongkok duduk nglongsor ditanah, bahkan si rezki mulai memainkan stik drumnya dengan menggambar entah antah berantah di tanah tanda kuciwo. Ibu pembayun keluar PAUD diikuti pak walikota, penonton memberikan jalan. Kami? Melihat arah gerak Ibu pembayun menuju tempat duduk, bukan jalan keluar, kami kembali tersenyum menyeringai, karena beliau duduk kembali. Kami berdiri dengan semangat yang didapatkan kembali, merapatkan barisan membentuk formasi. Kami bersiap – siap untuk tampil sembari menunggu panggilan dari MC yang mempersilahkan untuk tampil.

Sayangnya, semangat kami di luluh lantahkan oleh MC yang sebenarnya teman kami sendiri, karena dia tidak memanggil nama group kami melainkan nama group penghibur lainnya yang memang sudah siap siap tampil di sisi panggung lainnya. Kami kembali membubarkan diri. Aku mencoba mengkonfirmasi ke MC, dan MC memohon maaf karena group ini tadi juga request untuk tampil di dahulukan karena takut ibu pembayun dan pak walikota pergi. MC berjanji setelah penampilan ini, gorup kami yang akan dipanggil. Aku bersungut sungut mencu mencu seperti ikan mujahir. sebagian anak – anak yan glain mengikuti.

Ada sedikit harapan dan sedikit cemas di benakku dan benak adik adik. Cemas karena takut akan tiba – tiba Ibu pembayun dan Pak Walikota pamit, mohon diri sebelum kami tampil. Karena memang, pertunjukkan ini, di buat untuk membuat hati mereka bergetar. Kami sudah tak bisa lagi menikmati penampilan peserta lain yang ada di panggung. Jika boleh, maka segera mungkin akan kami usir mereka secara langsung untuk segera turun dari panggung.  Niatan yang jelek, tapi memang begitu adanya, paling tidak di dalam hatiku saja, heheehe(astagfirullah)… Pertunjukkan peserta lain di panggung, bagi kami (atau mungkin bagiku saja), nampak menjadi sangat lama…lama sekali. Kami hanya bisa diam setengah gelisah, atau gelisah sambil diam, seakan – akan mencoba berusaha untuk mengusir peserta lain yang ada di panggung agar segera turun (dalam hati). Hingga akhirnya, tanpa kami suruh, mereka sadar diri akan penampilan mereka yang tak sebagus kami (meskipun mereka belum melihatnya), sehingga mereka turun dari panggung, atau jika dilihat dari sisi lain, sudut pandang mereka, penampilan yang di sajikan telah usai, hahaha…

MC pun memanggil group kami. “ dan yang ditunggu – tunggu, penampilan dari adik adik TPA Asli Ledok Timoho, Reozer”

Kami menaiki panggung. Semua penonton tertawa melihat alat – alat yang kami bawa. Topa di paling depan membawa icik icik dari botol milkuad,   diikuti galih yang membawa dua botol kaca minuman vodca, lalu Rezki dengan  kaleng wafer nisin yang telah dimodifikasi tutupnya sehingga menyerupai ches – ches yang ada di drum ibanez, kemudian ardi yang juga membawa icik icik dari botol milkuad, aku membawa centong souvenir pernikahan yang entah sebenarnya apa fungsinya di pertunjukan ini aku pun tak tahu, yang penting aku bawa saja dariapda tidak bawa, di ikuti belakangku, Rio yang membawa icik – icik, Rudi mebawa galon aqua, Sandy rantang bertingkat sama persisnya dengan rantang yang ada di TV – TV tempo dulu ketika emak emak mengantarkan makan untuk bapak yang kerja di sawah, Satria  druum bekas cat ukuran 40 Liter, dan yang terakhir barno, pemegang jimbe, alat musik yang paling beres diantara lainnya.. Kami berhasil menyedot perhatian penonton. Penonton terdiam. Kami memberikan hormat kepada para penonton. saat kami menunduk, ada balasan dari Ibu pembayun dan Pak walikota. Kami duduk menata barisan. Disaat pertunjukkan kami sekian detik saja akan di mulai, aku melihat Ibu pembayun dan Pak walikota berdiri dari kursi dan pergi meninggalkan tenda. Tatapan nanar sekilas ada di mataku. Aku melihat adik – adikku, tatapan kecewa menghampiri masing – masing kelopak matanya. Kami gagal membuat mereka bergetar. Kami kalah telak. Pucat pasi…

***

Kami kecewa, Ya kami kecewa. Mungkin jika digambarkan, perasaan kami adalah seperti finalis indonesia idol yang ketika tampil dimata penonton dan juri, namun gara – gara ketiga jurinya kena diare, saat finalis menyanyi, juri pada pergi ke toilet dan tak milhat penampilan kami. Alhasil, hanya penonton yang bergemuruh melakukan standing aplouse tanpa ada komentar dari para juri. Tak ada pemenang secara resmi dan tujuan finalis indonesia idol gagal, yakni membuat terpukau juri dan menggetarkan hati para juri.

Waktu terus berjalan meskipun hanya dalam tempo detik. Penonton tidak mungkin tidak, harus kami buat mengakui bahwa penampilan kami lah yang terbaik dari yang lainnya. Terbaik dari yang lengkap fasilitasnya, terbaik dari yang lengkap pakaiannya. Kami, “dari yang bekaslah yang menghidupkan” mencoba untuk optimis dan membangkitkan semangat dalam diri kami bahwa kamilah yang terbaik, dan satu – satunya penilai yang tersisa adalah penonton. Biarlah mereka yang bertepuk tangan meriah menilai kami, dan mengatakan “kalian memang luar biasa”, tidak hanya penampilan yang apik, namun penampilan yang memiliki kesan tersendiri serta membekas membawa jiwa mereka melayang ke dalam sebuah nasionalisme, rasa yang telah lama menghilang dari setiap benak mereka”.

Tabuhan pembukaan mirip dengan suara drumband di mulai menggunakan jimbe oleh barno. Teriakan semangat dari Ardi membakar semangat kami semua.

tru dug, tru dug, tru dug tru dug trud trud dug

tru dug, tru dug, tru dug tru dug trud trud dug

tru dug, tru dug, tru dung trud dung turud ches plak..

Penonton tertawa mendengar ches plak nya yang fals dari kaleng wafer milik rezki. sambutan assalamu’alykum yang diambil dari lagunya Opickmengawali sapaan. Namun hanya salam saja. Kemudian scanerio berjalan, aku berkata dengan secempreng – cemprengnya , “kok g jawaaaaab…., ulangi ya….!”. Lagu salam salam di ulangi, namun lanjut  dengan bait selanjutnya.

Usai lagu itu, aku pun berteriak keras tanpa mic, ‘”meskipun pak walikota dan Ibu Pembayun sudah pamit, kita sapa dulu yuk dengan lagu selamat datang!!!”. Penonton kembali tertawa.

“Yoi…!!” secara serempak anak – anak mejawab

Lagu gubahan PSIM pun dimulai, “selamat datang…selamat datang, ibu pembayun, pak walikota.”, selamat datang…selamata datang, ibu pembayun, pak walikota”

selanjutnya alunan musik berjalan sesuai skanario, dan di tengah tengah musik itu, usai Ardi melantunkan tembang “ bangun pemuda – pemudi” karya alfred simanjuntak, aku tiba – tiba secara mengagetkan berdiri, berteriak lantang, “semua penonton di mohon berdiri !”. Penonton kaget, dan ada yagn berdiri, ada pula yang ragu – ragu. “ Hiduplah indonesia raya…..” aku mulai melantuntkan bait terakhir indonesia raya sebagai aba – aba…

dalam hitungan ketiga, sisi kiri dan kananku, Ardi dan Rio ikut berdiri kemudian menyambung lagunya, “indonesia…tanah airku….” di bait selanjutnya samping kiri Ardi, Reski dan samping kanan Rio, Rudi pun menyusul  ikut berdiri dan bersama sama kami melanjutkan lagunya “ Tanah tumpah darahku….” selanjutnya disisi Rezki dan di sisi Rudi, yakni galih dan Sandy menyusul “disanalah aku berdiri…”, selanjutnya topa dan barno, di paling ujung ikut berdiri, “ dan di pandu ibuku”

seluruh area menjadi satu suara, penonton berdiri semua, dan ikut menyanyikan. Yang mulanya duduk, menjadi berdiri, dan yang mulaya berdiri tetap berdiri sambil meletakkan tangan kanannya di dada seperti yang kami contohkan. Dalam tempo singkat, semua orang melakukan sikap tegap dan ledok timoho menggema karena semua orang bersama – sama menyanyikan lagu ini. Bulu kudukku mereinding melihat respon ini.

Indonesia kebangsaanku,
Bangsa dan tanah airku,
Marilah kita berseru,
Indonesia bersatu.
Hiduplah tanahku,
Hiduplah neg’riku,
Bangsaku, Rakyatku, semuanya,
Bangunlah jiwanya,
Bangunlah badannya,
Untuk Indonesia Raya.

 

Refrain

Indonesia Raya,
Merdeka, merdeka,
Tanahku, neg’riku yang kucinta!
Indonesia Raya,
Merdeka, merdeka,
Hiduplah Indonesia Raya.

Indonesia Raya,
Merdeka, merdeka,
Tanahku, neg’riku yang kucinta!
Indonesia Raya,
Merdeka, merdeka,
Hiduplah Indonesia Raya.

Ditengah – tengah kawasan kumuh, lagu indonesia raya berkumandang, Kami yang mengumandangkan menyatakan bahwa didaerah yang belum ada RT, RW, ini, kami masih tetap indonesia.. Di tengah – tengah kawasan yang belum di akui kepemilikan, setiap anak kecil, tua, muda, ibu- ibu, kakek nenek berdiri, menyanyikan lagu indonesia raya, menyatakan dirinya bahwa mereka masih tetap memiliki jiwa – jiwa indonesia. Biarlah Ibu Pembayun tak merasakan getaran ini, biarlah Pak Walikota tak ikut menyanyikan lagu ini, namun kami, kemi semua disini telah merasakan perasaan yang sama ditengah – tengah era melunturnya nasionalisme, bahwa kami masih indonesia. Dan biarlah kami, meskipun tak ada ibu pembayun, meskipun tak membuat bergetar pak walikota, dengan berbangga hati mengatakan, setidaknya telah berhasil menanamkan kepada setiap orang yang hadir disini untuk mengingat kembali, bahwa kami tetaplah Indonesia yang siap membangun negeri ini, apapun yang terjadi, dan bangga akan negeri ini.

Lagu indonesia raya telah usai….aku segera berteriak lantang memberi komando, “PEMBACAAN UNDANG – UNDANG DASAR 1945”

maka kemudian Rio maju membuka teks undang – undang dasar yang sudah kami susun , hanya beberapa pasal, namun pasti akan membuat semua orang yang mendengar  bergetar.

Dia mulai membaca dengan suara lantangnya,

 

Undang – undang dasar 1945.

Pasal 27 ayat 2

Tiap Warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan

setelah bait tersebut, kami serentang berteriak lantang, “Kata lagu kita telah merdeka”

Rio melanjutkan membaca

Pasal 31 ayat 1

Tiap – tiap warga negara berhak mendapatkan pengajaran

sama dengan yang awal, kami serentak berteriak, “Kata lagu kita telah merdeka”

Sebelum melanjutkan pembacaannya, Rio menatap para penonton yang terhenyak dan hening mencoba menyimak baik baik penampilan kami. dan kemudian melanjutkan membaca.

 

PASAL 34

Fakir miskin dan anak – anak yang terlantar di pelihara oleh negara

kali ini aku yang berteriak, “Mungkinkah kita telah merdeka???”

di jawab secara serentak oleh anak anak sambil mengelus dada, “insyaallah!!”

 

sontak membuat penonton bertepuk tangan gemuruh…. standing applause bertebaran , 50 % karena memang takjub melihat pertunjukan, dan 50 % bertepuk tangan dan berdiri karena memang tidak dapat tempat duduk.

Kami turun dari panggung dengan bertepuk tangan sambil menyanyikan mars anak TPA

Kami ini anak TPA, kami sholat dan mengaji

di situ kami ada, disini kami ada, karena kami anak TPA

satu hal yang dapat aku petik dari penampilan kami ini

“setidaknya aku telah menancapkan nilai nilai agamis dan nasionalisme pada adik – adikku..Nilai – nilai yang akan dibawanya ketika dewasa kelak. Nilai – nilai yang akan menjadi rujukan bahwa negaranya juga masih membutuhkan mereka untuk tetap berkontribusi seburuk apa kondisi mereka…. Semoga mereka juga membaca tulisan ini, bahwa aku, sebagai teman, kakak, maupun guru mereka, berharap bahwa kalianlah yang mampu memperjuangkan agama dan negara kalian. mampu memperjuangkan masyrakat miskin lainnya. Karena apa? karena kalian telah merasakan apa yang dinamakan sebenar – benarnya keterbatasan. Sementara , orang lain yang sering berteriak – teriak membela kaum miskin, mereka bisa saja berteriak – teriak membela kaum miskin, berpihak kepada masyrakat miskin, namun belum tentu sikap mereka, tingkah laku mereka, bergerak sesuai dengan teriakan teriakan mereka. Mengapa? Karena mereka tidak terjun langsung dan tidak merasakan keterbatasan itu. Lingkungan mereka adalah lingkungan kaya raya yang tidak paham mana sesungguhnya orang miskin yang sebenarnya. Kalian lah yang benar – benar tahu, orang miskin yang sesungguhnya. Dan ingat adik adikku….kemiskinan yang sebenarnya bukanlah miskin harta! melainkan miskin ilmu dan miskin pemahaman. Itulah alasan mengapa aku tidak pernah memberikan kalian uang secara cuma – cuma. Itulah alasan mengapa aku hanya selalu membagi ilmu , ilmu, dan ilmu. Itulah alasan emngapa aku ada, bersedia menjadi teman kalian dan mengorbankan waktu mencari uang hanya untuk membersamai kalian. Aku menaruh harapan besar terhadap kalian dan aku merasakan kalian bisa melakukan. Jadilah pemimpin yang hebat melebihiku, jadilah manusia dengan iman dan selalu berbuat kebaikan kepada sesama.

Allah memang menjadikan lawan kata tertawa dengan menangis.

Allah memang menjadikan lawan kata mematikan dengan menghidupkan

dan Allah menjadikan pasangan dari laki – laki adalah perempuan

Namun Allah sama sekali tidak pernah menjadikan lawan kata dari kekayaan itu kemiskinan. Sama sekali tidak pernah. Dialah yang maha adil dan memberikan lawan kata dari kekayaan itu kecukupan bukan kemiskinan. Inilah yang harus kalian pegang adik – adikku. Allah tidak pernah menjadikan kita miskin, karena paling buruk adalah kecukupan. Yang menjadikan kita miskin adalah prasangka diri kita sendiri. Maka dari itu, aku berharap dengan adanya kita yang saling memiliki, maka berprasangkalah bahwa kita ini kaya. Tidak ada harta yang lebih berharga daripada rasa cinta terhadap sesama saudara. Dengan rasa cinta itu, dapatlah terwujud segala impian yang diharapkan.

 

An Najm (53) : 43 – 45 & 47 – 48.
43: "dan sesungguhnya Dialah yang menjadikan orang tertawa dan menangis,"
44: "dan sesungguhnya Dialah yang mematikan dan menghidupkan"
45: "dan sesungguhnya Dialah yang menciptakan pasangan laki-laki dan perempuan"
47: "dan sesungguhnya Dialah yang penciptaan yang lain (kebangkitan setelah mati),"
48: "dan sesungguhnya Dialah yang memberikan kekayaan dan kecukupan."

Yogyakarta, 25 Januari 2013

No Leader, Just Together..

Untuk adik – adikku TPA, Roezer

dan rekan – rekan KOPI (Komunitas Peduli Indonesia)… Perjuangan kita selama ini, telah sedikit memetik  manisnya buah keberhasilan. Masih berlanjut, dan terus berlanjut hingga ajal menjemput.

 

 

Andy Eko Wibowo

 

 

Eling – eling sholat, muslimin muslimat, ayo kita sholat, berjamaah, sholat fardu, iku kewajiban kita urip ning donyo. kanggo bekal kito urip ning akherat..

Habis sholat kita ngapain?

Belajar sama sama

Bekerja sama sama

Semua orang itu guru…alam rimba sekolahku!!sejahteralah bangsaku..
Belajar, sama – sama..
bekerja, sama – sama…
***
sepenggal lagu yang akan membawa adik adik menjadi manusia yang berjiwa agamis dan patriotis….

20130124_080417

20130124_08025920130124_09565520130124_11170620130124_111712

3 Comments on yang bekas yang menghidupkan! (Story Peresmian sekolah gajah wong ledok timoho)

  1. saya Rio mas andy, kurang 1 artikel/ gambar lagi, yaitu foto pas pembacaan undang2 dasar nya ngak ada foto saya pyah lah 😀 jaya terus blogspot nya mas hehehe

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*