Mohon untuk tidak mengupload file materi perkuliahan yang berbentuk pdf, ppt, doc, xls ke Blog Staff UMY -- Silahkan upload file-file tersebut ke E-Learning MEngapa aku menikahimu?(Ma’aratus sholihah story XIII) – Andy eko wibowo

MEngapa aku menikahimu?(Ma’aratus sholihah story XIII)

“Suatu masa ketika aku memiliki calon istri”

Sudah tiga kali calon istriku bertanya kepadaku. Ujarnya seperti ini,“Mengapa pilihan jatuh pada diriku?”.

tiga kali pula, aku kesulitan menjawabnya. Setiap dia bertanya seperti itu, aku sangat kebingungan untuk menjawab dan hasilnya menjawab sekenanya. Kadang ku balikkan pertanyaan itu, “lha dirimu kok ya mau?”. Pertanyaan balik ini setidaknya menyelamatkan diriku untuk tidak menjawab pertanyaannya.

Ingin sebenarnya ku jawab saat itu juga, tapi sepertinya terlalu manusiawi jawaban itu. Maka dari itu, semoga tulisan ini bisa menjawab pertanyaanmu.

Jika jawabannya adalah karena aku ingin segera bisa menjaga syahwatku, maka ini bukan jawaban dari “mengapa pilihan jatuh pada dirimu?”. Ini adalah jawaban dari pertanyaan mengapa aku menyegerakan menikah.

Jika jawabannya adalah karena godaan pada saat usiaku sekarang, dimana sudah memiliki penghasilan, pergaulan luas dengan banyak wanita cantik dan tidak hanya berpenampilan sopan, bahkan ada yang penampilan menggoda kelaki lakian, maka ini pun bukan jawaban dari itu. Jawaban ini adalah jawaban dari pertanyaan yang sama, “mengapa aku di usia yang masih 25 ini, menikah!!”

Jika jawabannya adalah karena tidak ada yang lain selain dirimu, maka jawaban ini termasuk menyakiti perasaanmu dan bukan ini jawabanku. Mengapa? karena begitu banyak pilihan bagiku dengan ditunjang luasnya pergaulanku. Meskipun pada akhirnya, aku hanya menempatkan dirimulah satu – satunya pilihan yang ada didepan mataku. Sengaja ku butakan mata dari tawaran bapakku, ibuku, kawan terdekatku, hingga guru ngajiku.

***

Dulu…aku sangat menjunjung prinsip dalam memilih wanita. Sebuah prinsip yang diturunkan turun temurun dari kenakalan seorang lelaki. Prinsip itu berbunyi, “Wanita cantik dengan perangai lembut, putih, manis, senyum menawan, dan perhatian bukanlah jaminan kelak ketika kita menikahinya mampu mendapatkan hidup penuh dengan kebahagian, ketentraman, dan juga kenyamanan. Apalagi wanita yang jelek!!! tidak ada jaminannya sama sekali!, hehehe”

Mulailah dari prinsip ini, aku sangat mudah untuk jatuh cinta kepada setiap wanita cantik. Sangat mudah bagiku, di usiaku saat itu, dimana ilmu menjaga pandangan belum sampai, sangatlah mudah untuk jatuh cinta jika melihat wanita cantik (lha wong sekarang yang sudah sampai saja, sulit mengaplikasikan!!, heheehe). Namun, semakin usia melangkah ke arah tua, hatiku bertanya tanya, menyinkronkan nalar yang ku punya, Apakah kecantikan ini modal utama untuk melangkah ke jenjang pernikahan? Bagaimana jika saat menikah nanti, aku melihat wanita yang lebih cantik? Bagaimana jika saat telah menikah nanti, kecantikan istriku memudar seiring dengan keburukan yang belum nampak saat ini? bagaimana jika saat telah menikah nanti, kecantikan wajah istriku hilang, karena hal – hal lainnya yang belum aku ketahui saat ini. Rasanya, terlalu pendek jalan pikirku jika hanya memutuskan kecantikan sebagai kriteria seleksi calon istriku, namun terlalu naif apabila aku tak mau istri cantik. Maka dari itu, harus ada kriteria lain yang mampu menjadikan prinsip baru dalam kehidupanku untuk melengkapi prinsip nakal yang telah aku sampaikan tadi. Harus ada jaminan bahwa wanita cantik mampu memberikan hidupku setelah pernikahan ini bahagia, tentram, dan juga nyaman. Dan jaminan itu, aku temukan pada dirimu, calon istriku.

Mudah saja aku untuk jatuh cinta kepada setiap wanita cantik, karena itu fitrah dan kecenderungan bagi lelaki sepertiku. Tapi, tak akan lagi aku gunakan hidup ini hanya untuk jatuh, sekalipun hanya jatuh cinta. Hidupku kedepan, akan kuarungi bersama wanita cantik seperti dirimu yang baik agamanya, sehingga engkau bisa bersama  dengan diriku untuk membangun cinta, bukan sekedar jatuh cinta.

Aku berharap, engkau jangan tersinggung dengan alasan ini, menjadikan alasanmu untuk berpaling dan meninggalkanku. Hanya sesederhana inilah alasan mengapa aku memilihmu. Sesederhana manusia – manusia lain dizaman lalu maupun zaman masa depan. Sangat tidak masuk akal saat lelaki menikahi wanita hanya karena “mencintainya”. Lebih tidak masuk di dalam akal jika lelaki menikahi wanita hanya karena “dia pilihan yang ada dan tidak ada pilihan lain”. Lebih – lebih lagi diluar akal jika alasan lelaki menikahi wanita karena terpaksa. Mengapa demikian? karena ujar manusia bijak terdahulu, yang menjadi salah satu panutan didunia ini, dan juga terkadang diriku (saat nafsu tidak bergejolak dan iman ada didalam diri), hanya ada empat variabel seorang lelaki itu memilih wanita untuk dinikahi, yakni keturunan, harta, kecantikan, dan agama. Jika tidak ada keempatnya, sebaik – baik pilihan adalah yang baik agamanya.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*