Mohon untuk tidak mengupload file materi perkuliahan yang berbentuk pdf, ppt, doc, xls ke Blog Staff UMY -- Silahkan upload file-file tersebut ke E-Learning Aku kira, Anak jalanan itu…. – Andy eko wibowo

Aku kira, Anak jalanan itu….

Aku kiradulu itu, anak jalanan adalah anak  terlantar sesuai yang tertuang dalam undang  – undang dasar 45. Aku kira dulu itu,..anak jalanan adalah anak yang memang kekurangan biaya hidup sehingga terpaksa mengemis di jalanan, meminta recehan uang pada orang – orang di jalanan.  Aku kira….anak jalanan itu adalah anak yang tak memiliki orang tua , berjuang seorang diri, dan yang ia pahami hanyalah mengisi perut setiap harinya tanpa memikirkan hidupnya esok, apalagi memikirkan pendidikannya. Itu…aku kira! Dulu….
Sekarang?
Sekarang aku paham dan hampir menarik sebuah kesimpulan dari hipotesisku, bahwa tidak ada anak jalanan yang seperti aku kira dulu itu….
Anak jalanan yang aku kira dulu itu adalah pandangan dari seorang andy yang tidak terjun secara langsung di dalam dunia kehidupan anak jalanan.
Anak jalanan yang aku kira dulu itu adalah pandangan dari seorang andy yang merupakan orang – orang pada umumnya, dimana hanya melihat raut muka menyedihkan dari anak jalanan, merasa iba, dan mencoba untuk berbagi membantu memberikan senyum bagi anak – anak jalanan itu…
Aku kira….inilah pandangan pada umumnya mengenai anak jalanan.
Aku kira dulu itu, permasalahan anak jalanan dapat di selesaikan dengan pembenahan ekonomi semata.
Aku kira dulu itu, permasalahan anak jalanan dapat di selesaikan dengan pembenahan mata pencaharian orang tuanya saja.
Namun semua itu hanyalah yang aku kira dulu….
Sekarang aku paham, bahwa anak jalanan itu adalah pencilan, kegagalan dalam dunia pendidikan, mengenai tertanamnya pola pikir bekerja.
Kini…aku sungguh kecewa!!pikiranku terlalu berlebih terhadap mereka. Kesalahan total dalam pola pikirku dan pola pikir orang pada umumnya mengenai anak jalanan.
Bukan permasalahan ekonomi lah yang menyebabkan mereka hidup di jalan. Bukan persoalan terlantarlah mereka hidup mengemis di perempatan. Bukan persoalan yang remeh temeh urusan perut mereka memasang wajah muram, merana , seperti ingin di kasihani.
Anak jalanan itu penuh topeng…topeng kehidupan yang sesungguhnya…
Anak jalanan itu penuh dengan dogma…dogma untuk hidup miskin dari kedua orang tuanya. Sejak kecil, ia di dogma memasang topeng muram, hingga pada akhir dewasanya, wajah pikirannya hanyalah mengeluh, tiada dogma lain.
Sebuah kesimpulan, dalam menyelesaikan masalah anak jalanan!!! Mendekati lingkungannya! Mendekati pusat kehidupannya. Dengan berbagai kegiatan yang mendidik terpusat pada pendidikan karakter anak, bibit bibit pola pikir giat bekerja untuk meraih sesuatu, meraih impian. 
Sebuah kesimpulan, dalam memutuskan masalah anak jalanan !!! Membuat tempat pendidikan usia dini di pusat kehidupannya. Mendidik balita balita mereka bersamaan dengan waktu kerja orang tuanya, sehingga berimbas sebagai penitipan anak tanpa harus membawa anak tersebut sebagai obyek “kerja”.
Sebuah kesimpulan, dalam memutuskan masalah anak jalanan !!! Agak malu aku mengakuinya!!!tapi aku harus ungkapkan kenyataan!! Dogma – dogma kebenaran yang ada dalam agama lah terpenting yang harus diterapkan oleh anak – anak ini. Karena inilah sesungguhnya tujuan kehidupan.!!
Liar!!!Gila!!Anarki!!Kasar!!dan Sadis!! Jika kalian pertama mendekati mereka. Lingkungan yang mengerikan, dekat dari komunitas yang kesemuaannya negatif membuat pola pikir mengerikan dimiliki oleh anak jalanan. Tanpa kontrol, hingga pada akhirnya kalian akan di tantang dengan sebuah pertanyaan , “kau yang bisa bertahan di lingkungan ini, beradaptasi terlebih dahulu, atau jangan lagi kau kesini lagi!! “. Disini? Banyak yang menyerah, banyak yang tak mampu menyelami, dan banyak pula yang hanya menjadikan sebagai wisata ketertarikan sesaat.  Voulenter itu, kebanyakan dari kalanganku, Mahasiswa!!!Entah dari organisasi apapun.Voulenter yang bekerja tanpa pamrih dengan konsisten nampaknya sedikit saja. Hanya segelintir orang saja yang mampu bertahan, para militan – militan yang entah mau tidak mau harus aku akui…luar biasa!!bekerja tanpa mengenal lelah!! Hingga pada akhirnya, mengarahkan aku pun, ke jalan yang dirasa benar, untuk saat ini.
Butuh seribu Bembeng untuk mengatasi anak jalanan untuk hidup dengan bekerja. Sayangnya hanya ada satu bembeng yang masih bekerja.
Butuh ratusan Asep untuk mendidik pribadi -pribadi anak jalanan menjadi beradap. Sayangnya, asep pun mulai meredup, dan belum melihat asep – asep lainnya.
Butuh ratusan gerakan sosial untuk menjaring militan militan layaknya ari, tata, prima, acha, rigen, dan dewi, yang rela mengorbankan separuh kehidupannya hanya untuk mengajar dan berbagi kepada mereka. Sayangnya, satu gerakan sosial kehilangan tajinya.
Dan butuh waktu tahunan hanya untuk melihat beberapa anak jalanan mulai bermimpi!!! Sayangnya, waktu tahunan mengikis para militan.
Sebuah pengorbanan yang rasanya tak setimpal jika harus terjun bebas di alam tersebut, mengorbankan kehidupan yang telah berada di “comfort zone”. Tapi aku yakin, para militan – militan itu sadar, bahwa inilah harga yang harus di bayar untuk mewujudkan idealisme…Harga yang sangat mahal untuk merealisasikan idealisme, sementara aku yakin, peluang untuk memperoleh kedudukan, jabatan, kekayaan, dan kenyamanan hidup ada disetiap kesempatan (harus di “tidak pedulikan”, hanya untuk membayar harga “idealisme”).
Aku mulai tak percaya…dengan para mahasiswa!!sama saja dengan diriku sendiri yang dulu ….
Kalian menyangkal?
Buktinya kalian tidak bertindak.!!! Aku pun juga …tak ada tindakan!!
Sudahlah!!!
Aku sudah mulai muak dengan kosa kata terlihat wah…!!!!  Anehnya,  aku ikut tergoda untuk mulai belajar menguasai kosa kata wah ini..(comfort zone)
Sudahlah!!!
Aku sudah mulai muak dengan koar koar para mahasiswa yang menyuarakan demokrasi dan keadilan. Lucunya, aku pun sama saja…(comfort zone)
Sudahlah!!!
Aku sudah terlalu muak dengan segala alasan dari kalian, dan struktur organisasi yang terlalu banyak birokrasi, terlalu banyak menggunakan otak kiri. Kasihannya diriku, aku pun demikian. (comfort zone)
Sudahlah!!!
Aku sudah terlalu muak dengan segala organisasi!! Hanya ada program – program, pamer kesuksesan program, dan berakhir, tanpa memberikan hasil lebih. Janganlah beralasan, ini latihan! Janganlah beralasan, karena kita hanya menduduki organisasi ini selama 1 periode!!.  Parahnya, aku pun tak secuil pun mampu melakukan lebih baik dari para militan – militan tadi. (comfort zone)
Tapi, aku ingin berjuang bersama para militan – militan itu. Jika mereka berkata, ” Inilah dakwah!!”, biarlah aku mengatakan, “Inilah waktu untuk belajar pada kalian yang telah paham tentang makna dakwah, karena aku malu, menyebut diriku sedang berdakwah!! Orang hina ini, penuh dengan zina, tak layak berjuang dengan kata – kata dakwah!”.
Yang dibutuhkan bukanlah donasi uang….
Namun tidak bisa pula jika semuanya hanya terjun tenaga
Yang dibutuhkan lebih baik tenaga dan pemikiran, karena setelah itu uang akan datang untuk membantu terwujudnya pemikiran kita, merealisasikannya.
Yogyakarta, 19 desember 2012
Menjelang  tahun ketiga mereka berjuang di ledok Timoho.

1 Comment on Aku kira, Anak jalanan itu….

  1. Setiap orang mempunyai prinsip dan cara hidupnya masing-masing. Hal terpenting yang perlu kita pahami adalah bagaimana kita dapat percaya, bekerjasama, serta saling pengertian satu sama lain, terutama dengan “TIM”ataupun rekan kerja kita.

    Tidak sepantasnya kita memaksa orang lain untuk selalu sependapat dan satu idealisme dengan kita, tetapi alangkah lebih bijaksananya apabila kita mampu mempersatukan pendapat-pendapat demi mewujudkan idealisme yang lebih positif dan dapat diterima oleh “TIM”kita.

    Memang,salah satu prinsip hidup yang banyak dijadikan pegangan kebanyakan orang adalah menjadi makhluk yang bermanfaat bagi orang lain maupun lingkungan sekitarnya, namun orang lain dan lingkungan sekitar mencakup suatu hal yang luas, tidak terbatas. Jika memang seseorang pernah merasakan kebermanfaatannya dalam suatu lingkungan, alangkah tidak salahnya apabila ia pindah ataupun mencoba serta berusaha mengembangkan kebermanfaatannya bagi lingkungan yang lain, ketika lingkungan yang sebelumnya telah mulai berkembang.

    Mungkin saat ini kita ingin dan masih berfokus terhadap anak jalanan, tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa di luar sana banyak orang seperti kita yang fokusnya adalah hal lain, selain anak jalanan (entah apapun itu, saya belum bisa menyebutkannya).

    Mungkin kita merasa bahwa adanya struktur organisasi dalam setiap kegiatan ataupun organisasi akan sedikit menghambat ruang gerak kita serta menambah kerumitan birokrasi, namun tidak sedikit orang yang mempunyai kerumitan tersendiri dengan tidak adanya struktur organisasi tersebut. Jika kita memang ingin mewujudkan visi yang sama dengan orang lain, mengapa tidak mencoba untuk menerima pendapat orang lain dan mempersatukannya dengan pendapat kita?

    Laki-laki dan perempuan adalah makhluk yang berbeda. Berbeda cara berpikir, berbeda cara mengungkapkan emosional, serta berbeda ruang geraknya. Kebanyakan laki-laki lebih bebas dalam penentuan ruang geraknya sehingga menjadikan sebagian besar laki-laki lebih mudah dalam penentuan pilihan hidup yang akan dijalainya. Berbeda dengan laki-laki, beberapa perempuan merasa terbatas serta dibatasi ruang geraknya. Tentu saja perempuan yang hanya beberapa tersebut seharusnya bersyukur bahwa oragtua mereka masih mengkhawatirkannya, sehingga memberikan batasan-batasan pilihan dan prinsip hidupnya. Ada kalanya perempuan dapat bebas beraktivitas, namun ada pula waktu-waktu di mana ia terbatas untuk berekspresi.

    Ya, variasi dan lika-liku kehidupan berada tangan kita masing-masing. Jika kita memilih untuk menjalaninya dengan keras, kita akan merasakan suatu kepuasan tersendiri ketika berhasil melewati kerasnya hidup. Jika kita lebih memilih untuk hidup mengalir seperti air saja, mungkin tidak banyak ekspresi yang terlihat dari kita, dikarenakan kurang kuatnya prinsip hidup yang kita miliki, dan yang ada hanyalah sikap yang selalu menerima.

    Kehidupan setiap makhluk telah ada garisnya masing-masing, telah ada ketetapan mengenai nasib kita nantinya.
    Tidak ada salahnya jika kita berusaha menunjukkan rasa Cinta Tanah Air, menunjukkan kebermanfaatan kitabagi lingkungan, salah satunya dengan ikut menyumbangkan tenaga dan pemikiran bagi anak jalanan yang masih banyak tersebar di lingkungan kita, bahkan di seluruh pelosok tanah air Indonesia.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*