Mohon untuk tidak mengupload file materi perkuliahan yang berbentuk pdf, ppt, doc, xls ke Blog Staff UMY -- Silahkan upload file-file tersebut ke E-Learning Maafkan aku, pengabdian!! – Andy eko wibowo

Maafkan aku, pengabdian!!

makin lama kehilangan, rasanya makin hambar kehidupan. Makin lama tak melakukan, hatiku kering kerontang merasa tak bermanfaat, tak ada yang bisa di banggakan.

kawan….

kali ini benar – benar diri ini telah kehilangan keinginan untuk mewujudkan idealisme. Entah ! Entah mengapa idealisme itu hanya menjadi puing puing rangkaian puzzule yang mulai terangkai, namun hancur akibat ulah sendiri. Entah mengapa….!!!rasanya tiada akhir dalam menyusunnya..

Kawan…seandainya aku pernah berkata dalam hidup ini haruslah menyusun ekskalator mimpi satu demi satu, mendakinya untuk mewujudkan mimpi yang satu dengan yang lain, maka untuk hal idealisme pengabdian, bagi diriku saat ini, eskalator itu menjadi terlalu tinggi untuk aku jajagi. Tak dapat lagi kutuliskan semangat – semangat idealisme dalam blogku, untuk itulah aku tak pernah menuliskan sebuah semangat menggebu gebu lagi dalam blog ini. Mengapa? Karena sisi semangatku, sisi idealismeku dalam mengabdi, entah mengapa!!terlibas dalam satu kewajiban, yakni menuntut ilmu dan kemandirian. Aku memendam satu sisi dalam tiga sisi yang aku usung dalam semangat menulisku, sebuah pengabdian. Oh Tuhan….mungkin, saat ini aku terlalu sombong hingga engkau menampakkan benar- benar sebuah keterbatasan manusia. Sebuah kesombongan yang mungkin tidak terasa akibat terlalu banyaknya dosa.

Untuk itu kawan…kepada semua sahabat….rekan kerja, dan rekan perjuangan….aku ingin memohon maaf atas ketidak berdayaanku menjadi pemimpin kalian….

1 Comment on Maafkan aku, pengabdian!!

  1. Hey..hey whats up, boy..!?
    Semangat dong, dulu menyusun semangatnya karena Allah kan?
    Kalau belum karena Allah, berarti mesti disusun ulang semangatnya.
    Kalau sudah karena Allah, berarti minta kekuatan dari-Nya untuk mewujudkan. Selangkah demi selangkah.

    Ada kalanya Allah membuat cita yang kita raih "terasa" terlalu tinggi, berarti inilah saatnya kita merendah. Memang sejatinya kita rendah. Rendaaah banget dihadapanNya, (isn't it?!).

    Mungkin kini saatnya menata ulang.
    Bukan berhenti lalu menyerah.
    Tapi rehat sejenak untuk terus melangkah.

    Semangat boy, Lintang aja nyepeda 40km untuk bisa menuntut ilmu d sekolah mau ambruk.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*