Mohon untuk tidak mengupload file materi perkuliahan yang berbentuk pdf, ppt, doc, xls ke Blog Staff UMY -- Silahkan upload file-file tersebut ke E-Learning Harus Bagaimana Aku? Jika aku tak memperkosa Allah (Ma’aratus sholihah story part VIII) – Andy eko wibowo

Harus Bagaimana Aku? Jika aku tak memperkosa Allah (Ma’aratus sholihah story part VIII)

Aku memperkosa Allah..

“sungguh barangsiapa tidak meminta (memohon) kepada Allah, maka Allah marah kepadanya"(Hr.Al-bukhori, no. 658, At-Tirmidzi, no.3373, Ahmad, II/442, dan Ibnu Majah, no 3827)

 

Aku berusaha mencerna dan merenungi menggunakan kolbu dan pikiranku. Apakah pantas hadis ini digunakan dalam kondisiku saat ini, menyelesaikan permasalahan yang terjadi padaku.

Aku memperkosa Allah…

Pertanyaan berkecamuk dalam diriku. Aku mencoba meresapi, meyakinkan hatiku, bahwa hadis ini sesuai dengan kondisiku, namun betapa aku paksaakan, tetap saja sulit memasukkan ke dalam kolbu bahwa yang aku lakukan ini benar. Mungkin engkau telah membaca ceritaku kawan, bagaimana aku sangat terpikat dengan maaratussholihah itu. Entah mengapa ia  masuk dalam beberapa mimpi tidurku, sungguh aneh!!!mengapa harus dia. Alam bawah sadar itu menggerakkan jasmaniku untuk selalu bangun sepertiga malam  melaksanakan hadis tersebut. Bersholat hajad dalam waktu tahajudku. Aku memang memohon, dan rasa memohon itu begitu kuat, namun aku tersadar, kesalahanku adalah dalam setiap sholat yang aku lakukan, bayang – bayang akhwat itulah yang lebih kuat-( yang selanjutnya baru memohon kepada Allah). Hal ini melebihi kuatnya aku bersujud untuk menyerahkan ragaku kepada Nya, bersujud kepadaNya, agar hidup ini selalu terhubung kepadaNya, mencintai Nya dalam setiap tindakan dengan selalu mengingat dalam kolbu.

 

Kesalahanku, bayang – bayang akhwat itulah yang lebih kuat di dalam pikiran dan hati sewaktu sholat, melebihi kuatnya kolbu ini agar selalu fokus seakan – akan bertemu Allah atau seakan – akan beribadah di lihat Allah. Aku membawa egoku, seakan – akan dalam saat sholatku dimana waktu itu aku seaakan – akan bertemu kepada Allah, hanya untuk memaksa Allah agar bersedia mewujudkan apa yang terjadi dalam mimpi, dan apa keinginanku agar menjadi kenyataan.

Aku memperkosa Allah….atau aku meminta kepada Allah???

bukan pada tempatnya kah hadis ini? atau hadis ini tetap berlaku dengan kondisiku seperti ini? Pada peristiwa apakah hadis ini ada dulu?

Sungguh malang bagiku, orang yang tak berilmu!!!

***

Jangan – jangan ini juga merupakan gangguan dari Khazab, si panglima iblis pengganggu shalat??

***

Terkadang aku bertanya, apakah aku benar, atau apakah aku salah? Hingga menemukan sebuah alur pemikiran yang menyatakan bahwa hal ini bukanlah tindakan yang benar. semoga hambaMu ini tidak tersesat.

2011-12-29 13.44.30

***

Betapa aku melihat perbedaan, dalam sholat malamku.

Pertama,

beribadah kepada Allah sebagai ungkapan bersyukur kepada Allah atas nikmat yang telah diberikan sehingga jiwa ingin selalu terhubung dengan Allah dan

kedua

beribadah kepada Allah karena mengharapkan suatu hikmah/imbalan sehingga  terwujud apa yang ingin aku peroleh, merengek rengek, merayu Tuhan bahasa lembutnya, dan memperkosa Tuhan istilah kasarnya.

 

Dari situlah aku menyimpulkan bahwa ternyata sujudku bukan niat lilahi ta’ala.

Sujudku hanya karena ma’aratus sholihah anganku, impianku!!.

***

 

Aku memutuskan untuk tak memohonkan lagi apa yang aku inginkan, mendapatkan dirimu sebagai istriku…

maafkan aku, karena aku sadar, ternyata harapanku kepadamu, melunturkan cintaku kepada Tuhan, Allah swt. Betapa Tidak, setiap sujudku, yang aku mohon kepadaNya, hanyalah engkau menjadi pendampingku…

 

***

Telah satu minggu, aku tak memohon…mencoba untuk iklas…bahwa saat ini, kebelum siapanku lebih memilih untuk fokus agar hatiku benar – benar terisi hanya ada Allah, mencintai Allah. Restu orang tua ku yang cenderung masih ber adat jawa menjadi bahan pertimbanganku juga untuk mulai iklas. Aku tahu, aku sangat ingat benar, bagaimana janji Allah swt terhadap ketetapan jodoh seorang muslim yang baik, adalah seorang muslimah yang baik pula.

Ku tak lagi memperkosa Allah…

ku tak lagi merengek – rengek di setiap sepertiga malam, di setiap hajatku, di setiap tahajudku, merengek – rengek hanya meminta dirimu untuk terbolak – balik hati bersedia menungguku hingga aku siap.

***

Namun betapa sungguh aneh!!!

Memang!!! rasa dalam hati yang bersikeras untuk merengek kepada Allah s.w.t masih ada, namun lambat laut rasa tersebut tak sekuat minggu lalu.. Melemah, melemah, dan terus melemah. Hingga di satu titik, aku tak lagi berharap, dan tak lagi memohon agar engkaulahlah yang menjadi pendampingku.

CELAKANYA!!!!

Mengapa rasa semangat untuk bangun sepertiga malam juga melemah. Celaka!!Mengapa semangat untuk beribadah melemah!!Celaka!!Mengapa rasa cinta kepada Allah s.w.t pun juga tak terasa, mulai hilang hingga aku menjadi sangat malas beribadah. Celaka!!!benar –benar celaka. Beku nian semangat ini untuk menyembah Mu. ternyata….aku menyembahmu hanyalah karena engkau, maaratus sholihah. Sungguh!!! Aku kini beribadah kepadaMu, namun ibadahku lebih melayang – layang, karena tak ada permohonan lagi kepadaMu, bahkan seakan – akan di lihat oleh Allah pun, tak mampu kolbu ini masuk kearea itu. Aku tetap bersujud kepadamu, namun sujudku, tak ada arah…entah hanya formalitas ataupun malu karena kawan – kawan juga bersujud. Aku tetap mengaji, aku tetap ta’ lim, aku tetap sholat sunah, tapi mengapa, begitu lemahnya keberadaan Allah dalam diri ini, bahkan mungkin aku masih melakukan hal ini, karena derajatku lah yang telah tinggi dan ku tak mau di nilai orang – orang sebagai orang yang rusak moralnya. Bayangkan saja, diriku sebagai penggerak KOPI, yang didalamnya terdapat begitu banyak para militan – militan pejuang da’wah, mana mungkin aku merusak brand image yang sudah terbentuk selama ini. Aku tak mau itu terjadi. Namun terus terang, wahai hati sanubari, Allah begitu jauh denganku, sudah aku paksakan untuk dekat dengan dirinya, namun tetap saja tak kutemukan cinta terhadap Allah dalam diriku. Allah telah pergi, tak kutemukan lagi dalam hati.

Aku kira ini hanya perubahan hati yang sementara, namun ternyata berujung lama sekali. Seminggu berlalu, hingga satu bulan aku menjalani.  Aku kini mulai enggan untuk sholat, merasa tak butuh untuk apa sholat. Di dalam kolbu ini, tak bisa aku benar – benar selaras dengan konsep bersujud kepada Allah, yakni semua karena mengharap ridho illahi, beribadah karean ingin selalu dekat dengan Allah.

 

***

Tuhanku, Allahku…Aku ini pria hina…..

mengapa jika aku tak meminta kepadaMu, maka cintaku padaMu pun hilang!!Bagaimanakah cara mencintaiMu?

***

Suatu malam aku merenung tentang dimanakah posisiku dimata Allah.

Aku, tentunya orang yang lebih baik daripada orang syirik, karena dosa syirik pasti tidak diampuni, bahkan surga diharamkan atas orang syirik. Benarkah ??

Aku tentunya orang yang lebih baik daripada para pezina, karena mereka merasa aman dari azab Allah, mereka tidak pernah berpikir tentang bagaimana azab Allah. Benarkah ?

Tentunya aku lebih baik di bandingkan dengan wanita – wanita yang berpakaian seksi, dengan hot pant dan baju u can see serta lelaki yang bersamanya. Benarkah?

Aku, juga pasti lebih baik daripada orang yang pernah membunuh. Banyak sekali para pembunuh, bahkan koruptor pun merupakan seorang pembunuh. Benarkah?

Aku, tentunya pasti lebih baik daripada orang – orang yang memakan riba, aku tak pernah berdagang, aku tak pernah menggunakan kesempatan – kesempatan riba. Benarkah?

Tentunya lebih baik di bandingkan dengan orang yang bertato karena seberapa kerasnya sholat mereka pasti tidak sah. Benarkah?

Aku, tentunya lebih baik di bandingkan orang yang meminum – minuman keras, karena seberapa kerasnya mereka berbuat kebaikan, amalan – amalannya tidak akan pernah diterima oleh Allah. Benarkah?

Aku, tentunya lebih baik daripada para pezina, yang setiap malam mereka berpesta pora seks, dimana untuk bertobat, tidaklah gampang, dimana hukuman mereka rajam. Benarkah?

Aku, tentunya lebih baik daripada orang yang durhaka kepada orang tua, karena sungguh surga ada ditelapak kaki ibu, dan laknat Allah ada pada orang durhaka. Benarkah?

Aku tentunya lebih baik daripada orang yang menyengsarakan anak yatim, karena aku tidak mengenal anak yatim dan tidak pernah berinteraksi dengan anak yatim. Benarkah?

 

Benarkah Aku yang lebih baik dari mereka?

Bagaimana Allah memandangku? Bagaimana Allah memandang mereka? Benarkah mereka tidak masuk surga? dan aku yang masuk surga? atau kita berdua masuk neraka?

Bagaimana Allah menilaiku di bandingkan mereka?

Bagaimanakah Aku bisa mencintai Mu?

***

bersambung……..

 

Link terkait….

Jika Istriku, al mar’atus sholihah I
Fiksi, perjalananku -“Mar’atusshalihah Story II”
Fiksi: Aku mulai mengenalnya -“Mar’atusshalihah Story III”
LAMARLAH DIA!!!“Mar’atusshalihah Story IV”
Tak mau aku meminangmu hanya dengan basmallah….!(mar’atus Sholihah Story V)
Jika Aku memperkosa Allah, masih benarkah aku berdoa? (maaratus sholilah story VI)

Karena Aku Hidup di Sebuah Adat Jawa (Maaratus sholihah story VII)

1 Comment on Harus Bagaimana Aku? Jika aku tak memperkosa Allah (Ma’aratus sholihah story part VIII)

  1. hehehe…terkadang kita g berpikir sampai sejauh ini, siapa ya yang pantas menjawab segala pernyataan dan pertanyaan di cerita ini??perlu di jawab dengan gamblang…
    lanjutkan theng!!!jadi penasaran!!
    buat para pembaca, ayo mencoba berpendapat!!!atau mengungkapkan referensi yang bisa menjawab dan mengclearkan.!!!

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*