Mohon untuk tidak mengupload file materi perkuliahan yang berbentuk pdf, ppt, doc, xls ke Blog Staff UMY -- Silahkan upload file-file tersebut ke E-Learning TUGAS FILSAFAT ILMU SUMBER PENGETAHUAN DAN PENALARAN ILMIAH – Andy eko wibowo

TUGAS FILSAFAT ILMU SUMBER PENGETAHUAN DAN PENALARAN ILMIAH

Oleh : Andy Eko Wibowo (11/322567/PFA/1065)


SUMBER PENGETAHUAN DAN PENALARAN ILMIAH

Oleh : Andy Eko Wibowo (11/322567/PFA/1065)

Pendahuluan

Bagaimana kita sebagai ilmuwan, tentunya tidak lepas dari persoalan- persoalan penalaran dan logika. Harus tahu bagaimana menalar dan apa itu logika, khususnya harus mengetahui logika penalaraan sebagai dasar aktifitas kegiatan di bidang ilmiah. Jika manusia harus berpikir melalui bentuk penalaran, bagaimana posisi penalaran dan logika dalam bidang ilmiah?

Untuk menyelesaikan masalah, bisa saja permasalahan ini kita selesaikan dengan mudah, missal, ada suatu percecokkan, maka kita pukuli, dan kita bunuh. Apakah itu disebut menyelesaikan masalah? Ya, masalah selesai. Namun, ada pertanyaan yang lebih lanjut, apakah penyelesaian masalah tersebut bagus dan benar? patut dipertanyaakan. Contoh lagi, apabila kita untuk Lulus S2, kita kuliah- kuliah, lalu untuk mendapatkan ujian, kita dapat bekerja sama berbuat curang, sehingga mendapatkan nilai yang baik. Pertanyaannya masih sama, apakah itu penyeelsaiannya? Didalam menyelesaikan masalah, kita harus berpaling pada pengetahuan, apalagi dipandang kita sebagai ilmuawan, maka kita harus mampu menyelesaikan masalah secara ilmiah.

Berbicara soal pengetahuan, binatang mempunyai pengetahuan, bedanya, binatang berpengetahuan sebatas survival menyelamatkan kehidupan anak cucunya, kera tahu buah jambu yang enak, tapi mereka tidak simpan dulu, nanti di jual ke pasar.

Tetapi manusia berpengetahuan mampu menalar, berpikir, logika, untuk mengembangkan pengetahuannya atau dengan kata lain, membudayakan apa yang telah dikembangkan kebudayaannya, manusia mampu menalar, mengembangkan pengetahuannya dengan logikanya.

Pembahasan

Dikatakan bahwa manusia memang bisa mengembangkan pengetahuan karena ada dua hal, yakni manusia memiliki bahasa untuk berkomunikasi dan manusia mampu menalar (Suriasumantri, 1997).

1. manusia memiliki bahasa untuk berkomunikasi.

Dengan memiliki bahasa untuk berkomunikasi, maka manusia memiliki kemampuan untuk mengkomunikasikan masalah yang telah diselesaikan sehingga mendapatkan suatu ilmu baru serta dapat di informasikan kepada manusia lain sehingga dapat dikembangkan untuk masalah yang ada. Karena bahasa dapat untuk mengkomunikasikan suatu hal ke orang lain, maka dalam mengkomunikasikannya harus tertulis dalam bentuk bagus,dengan aturan. Hal ini sangat berguna untuk mengkomunikasikan informasi yang diperoleh kepada orang lain yang berikutnya agar berkembang – berkembang menjadi informasi yang lain.Oleh karena itu, misalkan kita membuat sebuah karya ilmiah, karena tujuan kita memberikan informasi dengan kalimat yang jelas, agar tujuan kita mengkomunikasikan dengan orang lain bisa tercapai.

Syarat bahasa digunakan sebagai komunikasi ilmiah antara lain :

a. harus bebas emotif

b. reproduktif, artinya komunikasinya dapat dimengerti oleh yang menerima.

Kekurangan bahasa terletak pada:

a. Peranan bahasa yang multifungsi, artinya kommunikasi ilmiah hanya menginginkan penyampaian buah pikiran/penalaran saja, sedangkan bahasa verbal harus mengandung unsur emotif, afektif dan simbolik.

b. Arti yang tidak jelas dan eksak yang dikandung oleh kata-kata yang membangun bahasa.

c. Konotasi yang bersifat emosional.

2. manusia mampu menalar

Menurut Salam (1997) penalaran merupakan tahapan penemuan kebenaran, dan setiap jenis penalaran memiliki kriteria kebenarannya masing-masing. Penalaran merupakan kemampuan berpikir menurut alur kerangka tertentu. Manusia mempunyai alat otak, apabila ada suatu persoalan yang dipikirkan, Jika itu berupa masalah, maka manusia akan berpikir bagaimana menyelesaikan masalah itu. Manusia berpikir, dari satu pikiran, beralih kepikiran lain, lalu dirangkaikan untuk menyelesaikan masalah. Pikiran – pikiran yang dirangkaian itu adalah yang disebut penalaran. Apabila manusia harus menyelesaikan msalaah dengan berpikir sampai suatu penalaran, pastinya menurut logika yang jelas. Oleh kerena itu bagaimana kita menyeleasaikan masalah missal sebuah thesis,maka kita mencari judul, referensi, menyusun hipotesis, variabel, dan seterusnya. Bagaimana kerangka itu tersusun dengan baik atau tidak, itu tergantung potensi manusia dalam berpikir.

Manusia juga mengenal Instink atau intuisi. Apakah hal tersebut juga termasuk penalaran? Berbeda dengan penalaran, instink merupakan alur berpikir dengan pola tertentu yang bukan pola berpikir penalaran, terkadang instink yang di miliki oleh binatang lebih tinggi dibanding manusia.

Kita telah mengetahui mengapa manusia mampu mengembangkan pengetahuan, karena manusia memiliki penalaran dan bahasa. Lalu, berasal darimanakah pengetahuan yang dimiliki oleh manusia tersebut? Atau dengan pertanyaan lain , bersumber dari manakah pengetahuan manusia itu? Menurut salam (1997), ada beberapa macam sumber pengetahuan, yakni :

1. Penalaran

2. Perasaan. Kita merasakan sesuatu, pelukis, untuk mewujudkan ekspresi

3. Intuisi/instink, sumber pengetahuan, tetapi bukan penalaran

4. Wahyu, bersifat pemberian.

Jika pengetahuan yang bersumber dari penalaran, perasaan, dan instink manusia merupakan sumber pengetahuan yang dapat dikembangkan dari hasil aktifitas manuisa, namun sumber pengetahuan yang berupa wahyu merupakan bersifat pemberian, tidak sembarang orang yang diberikan.

Penalaran merupakan rangkaian berpikir secara teratur ,secara terkonsep, secara sistematis hingga mendapatkan pengetahuan sedangkan perasaan berbeda, menggunakan hatinya, tidak secara teratur , terkonsep maupun sistematis. Meskipun demikian, dengan perasaan pun, hasilnya juga akan mendapatkan pengetahuan. Misal pelukis, tidak menggunakan penalaran, namun perasaan. Pengetahuannya adalah lukisannya tersebut.

Dikatakan bahwa penalaran merupakan rangkaian berpikir. Oleh karena itu, apabila hanya berpikir satu kali saja atau satu bagian saja, maka itu tidak dikatakan penalran. Sehingga penalaran adalah kegiatan berfikir yang mempunyai karakteristik tertentu dalam nememukan kebenaran.

Adapun ciri dari penalaran lainnya antara lain:

a. Adanya suatu pola berpikir luas yang disebut logika, tiap bentuk penalaran mempunyai logikanya sendiri. Misalkan, apabila kita punya 1 dos rokok, ditujukan kepada sejawat medis, dokter berkomentar didalam kotak ini ada rokok yang megnandung tembakau ada kandungan nikotin, klo dibakar dihisap dalam jumlah kecil merangsang otak, dan jika kebyakaan bisa paralisis. Sehingga sejawat medis itu akan memberikan sebuah kesimpulan jangan merokok. Sekarang, barang sama, namun diberikan kepada pedagang rokok. Maka pedagang rokok akan membuat logika yang berbeda, misalnya Barang ini luar biasa sekali. Ini klo dirokok, nikmat, dan itu ternyata sangat berguna, justru dengan berdagang, anak saya lulus, pedagang rokok ini akan membuat sebuah kesimpulan bahwa barang berguna sekali. Inilah yagn disebut logika yang digunakan berbeda.

b. Penalaran adalah proses berfikir yang logis (menrutu pola/logika tetentu),

Suatu kegiatan bisa dikatan logis dari suatu logika tertentu dan dapat dianggap tidak logis apabila ditinjau dari logika lainnya. Contoh gelas ada air dikasih gula. Kemudian gelas diberikan seorang farmasi. Ini air, didalam ada gula yang bsia larut karena kelaratuasn sekian gram, mestinya taadi kruang dari sekian gram, setelah itu ddialam gelas ada dispersi molekuler itu rumusnya seperti ini. Klo hal ini diterangkan masyarakat awam, pasti dianggap orang gila. Inilah yang disebut suatu kegiatan bisa dikatakan logis dari suatu logika tertentu dan bisa dikatakan tidak logis apabila ditinjau dari logika lain.

c. Adanya sifat analitis dari proses berpikir pada saat melakukan penalaran. Analisis adalah kegiatan berfikir berdasarkan langkah – langkah tertentu.  Penalaraan ilmiah merupakan kegiatan analisis yang menggunakan logika ilmiah, jika kita menyelesaikan tehsis harus sesuai dengan logika ilmiah, dalam arti sesuai dengan bidang yang kita kerjakan dalam peneltiiant ersebut, makanya kenapa kita harus di iuji oleh penguji penguji yagn sesuai dengan bdiangnya,, agar analisis yang kita tulis dapat diterjemahkan secara logika ilmiah, bayangkan saja, jika pengujinya dosen sejarah.

Sehingga penalaran merupakan proses berfikir yang logis dan analitis. Karena apa? fakta kenyataan tidak setiap kegiatan berpikir bersifat logis da analitis. Artinya ada cara yagn berikir yang tidak , ada logis dan tidak analisis, misalkan , sebuah intuisi, ini bukan merupakan hasil penelitian. Kadang kita tidak semata – mata hanya menggunakan penalaran dalam melakukan penelitian, namun bisa terjadi instink/intuasi yang tiba tiba muncul, misal senyawa A dan senyawa B, membuat nano partikel, TPP dan chitosan, secara logika muncul koloid yang baru, tapi kok gagal, akhirnya kita tidak bisa menggunakan penalaran yang ada, tiba – tiba, ada binatang tikus, cur, kencing masuk. Akhirnya muncul, berarti kurang suasana asamnya.

Intuisi, perasaan, dan penalaran didapat sebagai usaha aktif manusia. Sedangkan Wahyu diperoleh sebagai pemberiann dari Tuhan. Didalam wahyu dan intuisi mencakup materi pengetahuan dan sumber pengetahuan yang benar. Bukan berarti wahyu itu menipu, dan instink bukan pengetahuan yang benar, asalkan benar bukan mengada – ada, maka instik tersebut merupakan pengetahuan yang benar.

Dalam sumber penalaran belum mencakup materi dan sumber pengetahuan,

· Sumber pengetahuan dari penalaran adalah rasio dan fakta…

· Rasio disebut rasionalisme, sedangkan berdasarkan data – data yagn ada (fakta) disebut empirisme.

Lalu bagaimana dengan penalaran ilmiah?

Penalaran secara ilmiah itu ada dua, deduktif, dan penalaran secara induktif, dengan pendekatan logika yang ilmiah harus menggunakan penalaran gabungan, deduktif dan induktif. Penalaran deduktif terkait dengan rasionalisme. Penalaran induktif dengan empirisme. Penarikan kesimpulan dianggap valid bila dikeluarkan dengan cara tertentu yang disebut logika, dan logika ada dua macam yakni logika induktif, dan logika deduktif. Dalam melakukan rencana penelitian kita harus menggunakan logika induktif disatu sisi, dan menggunakan logika deduktif di sisi yang lain.Logika induktif berdasarkan apa yang diketahui, dari kesimpulan yang besifat individu kemudian disimpulan menjadi kesimpulan yang bersifa menyeluruh. Logika deduktif merupakan penarikan kesimpulan dari kasus umum menjadi kasus yang bersifat special. Contoh apabila kita pergi ke pasar, secara umum dipasar mangga manis, ditempat satu wadah pasti manis. Dicoba manis, manis, manis, ternayta semua manis, berarti betul bahwa mangga manis..

Induksi , berfikir dari khusus ke umum. Jika didalam penelitian sampel bersifat khusus, lalu digenerasilasi, berarti kita dari khusus untuk mengambil kesimpulan umum. Cara ini, disebut pula cara berfikik sintesis. Karena kita mensistesis dari sifatnya individu untuk mengambil kesimpulan yang bersifat umum. Mensintesa dari satu data, data untuk disentesis menjadi bersifat umum.

Pola berpikir secara ilmiah itu gabungan keduanya, pola berpikir ini adalah gabungan antara berpikir sintesis dan analitik. Dikatakan apabila didalam menyelesaikan masalah ilmiah, sebaiknya mengabungkan pola pendekatan secara keduanya, karena itu pola pikir arif dan bijaksana, prespektif dan titik panjang yang jauh, mengandung dimensi yang kaya variasi, bersifat sistematis, logis, dan metodologi,pembuktian berdasarkan data yang faktual dan verifikasi yang intensif.

Jadi jika melakukan penelitian, maka alur penelitian adalah :

Bermula dari masalah karena kita tidak tahu pengetahuan yang kita peroleh bisa menjumpai khasiat, apa itu masalahnya, untuk itu kita harus melakukan penalaran pola berpikir secara ilmiah. Apa yang kita lakukan? kita harus membaca, mengambil teori dan konsep yang relevan, membaca buku, referensi, leafleat yang ada untuk mendapatkan penjelasan kira – kira maslaah yang kita hadapi itu bagaimana menyelesaikan masalah. Atau bisa kita membaca temuan -temuan yang relevan (jurnal – jurnal ilmiah), oleh karena itu adalah tidak logis apabila misalkan mahasiswa membuat thesis tetapi tidak melangkah kesini, (tidak browsing di internet, perpustakaan), namun membuat laporan. Oleh karena itu dengan logika penalaran yang ada, yang diungkapkan judul penelitian, apa yang kita lakukan? Kita browsing internet. Kemanapun, baru setelah dari buku buku maupun temuan – temuan yagn relavan, kita baru bisa merangkum semuanya, kita telurkan di dalam hipotesis, hipotesis bisa muncul jika kita suah membaca dasar teori, dan hasil hasil peneltian yang sudah ada. Karena hipotesis itu merupakan review dari apa yagn ada didalam buku/temuan -temuan. setelah itu, dari hipotesis dilakukan identifikasi, klarifikasi, operasionalisasi untuk menentukan vairabel nya apakah variabel tergantung, dan bebas,mana vairabel vairable yagn menjadi bebas, kendali, dan tegantungnya, setelah ditentukan , kita bisa menetapkan isntrumentnya, alat yang diperlukan, misalkan mengukur konsentrasi, kita perlukan spektro, kita perlukan TLC, kita perlukan ,setelah itu, bagaimana kita mendesain menghubungkan vairabel variabel ini.

Setelah desain yang sudah ada, baru kita melakukan penelitian mengambil sampling. Dengan aplikasi insturment dan penetapan desain yang sudah ada , kita mengambil sampling untuk mendapatkan data , data kita kumpulkan, dada di analisis, mendapatkan hasil analisis, dihubungkan dengan teori -teori yagn ada sehingga menghasilkan hasil penelitian, laporan – laporan yang ada digunakan sebagai temuan – temuan yang relavan.

Pertanyaannya, jika tadi dikatakan dalam menggunakan penyelesaian logika ilmiah menggunakan pola berpikir reflektif, maka dari hal tersebut di mana yang merupakan pendekatan induktif, dan pendekatan deduktit ?Dari masalah ke hipotesis merupakan pendekatan deduktif. Sedangkan dari data sampai ke kesimpulan dan hasil penelitan merupakan pendekatan induktit.

Kesimpulan

1. Sumber pengetahuan ada empat yakni penalaran, perasaan, intuisi dan wahyu.

2. Sumber pengetahuan dari penalaran adalah rasio dan fakta. Penalaran Ilmiah menggunakan metode rasio dan fakta dalam bentuk induktif dan deduktif.

DAFTAR PUSTAKA

Depdiknas. 2003. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Edisi ketiga. Jakarta: Balai Pustaka.

Salam, Burhanuddin. 1997. Logika Materiil Filsafat Ilmu Pengetahuan. Jakarta: Rineka Cipta.

Suriasumantri, Jujun S. 1999. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.

5 Comments on TUGAS FILSAFAT ILMU SUMBER PENGETAHUAN DAN PENALARAN ILMIAH

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*