Mohon untuk tidak mengupload file materi perkuliahan yang berbentuk pdf, ppt, doc, xls ke Blog Staff UMY -- Silahkan upload file-file tersebut ke E-Learning Schizophrenia 2 (Eka Ayuthaya Khanif Putra X) – Andy eko wibowo

Schizophrenia 2 (Eka Ayuthaya Khanif Putra X)

Engkau tahu , sampai saat ini, hidup pada hari, setelah ini adalah hari yang paling hambar, hambar!. Sepertinya hidupku tanpa cinta, tanpa kasih sayang. meskipun banyak orang yang peduli dan sayang. Bak hati yang kosong , bak gentong tak berisi, membuat diri ini tak tahu harus kemana. Harus hidup untuk apa. Kegiatan yang paling menyenangkan bagi hidupku saat ini hanyalah tidur, berkhayal, dan berandai – andai. Terkadang aku ingin membenci segala sesuatu yang ada, bahkan diriku sendiri. Tapi  rasa bersalahku mengalahkan rasa benci. Dari lahir hingga saat ini, aku hanya di ajari oleh orang – orang  terdekatku berharap, bermimpi, dan bertekad, belum pernah mereka mengajariku untuk menerima pahitnya kenyataan, bukan main, seonggok jamu kodong telo dirasa tak akan mengalahkan pahit ini. Di usiaku sekarang, usia sebelas tahun, aku merana, tak tahan menerima kenyataan.

Rasa – rasanya, kamar adalah tempat paling nyaman, karena di dalam sinilah suaraku di dengar. Aku sudah tak takut lagi, bahkan mulai merasakan artinya persahabatan.  aku mulai akrab dengan sahabat – sahabat baru, yang orang lain tak mau tahu.

   

Eka Ayuthaya khanif putra….aku punya sahabat – sahabat baru, percayalah padaku! Aku bisa berbicara dengannya dan mereka pun bisa berbicara denganku. Bahkan terkadang mereka mengajakku untuk berpetualang di dunia mereka masing – masing. Jangan bertanya bagaimana caranya, aku sungguh tak boleh mengatakannya. Aku sudah janji kepada mereka. Aku tak akan mengatakannya meskipun engkau paksa, karena aku sekarang hanya percaya mereka.

 

Hari makin cepat berganti, hingga semakin sering hari berganti, aku semakin hafal kapan teman-teman ini datang, kapan teman-teman mengajakku masuk ke dunianya , bertualang bersama, bergembira, dan  menghadapi tantangan serta terjangan musuh yang tak berperasaan.

 

Tikus yang kutolong itu memperkenalkan dirinya Wirok, Dia lucu! badannya gembul menyebabkan jalannya kental kentul lambat. Badannya yang gembul itu pula yang menyebabkan dia sulit bergerak ketika terjebak di lemari kemarin, ekornya terjepit. dia sangat berterima kasih kepadaku, telah meringankan nyawanya, membuatnya masih bisa hidup sampai sekarang. Katanya, ekor adalah bentuk kehormatan bagi Klan. Apabila dia tak berekor, tak akan pernah lagi dia tetap berada di Klan,di usirnya pergi dari koloni, meregang nyawa kelaparan, belum lagi ketika musim panen, manusia – manusia  mengincar nya karena dianggap sebagai hewan hama.  Persamaanku dengan Wirok adalah satu, sama – sama hampir mati akibat santet Pak Sugali. Pernah waktu itu, bersama klannya bermukim di kebun tebu milik Pak Sugali. karena waktu itu musim panen, maka rumahnya di obrak – abrik . Katanya, Hampir saja ia terkena api hasil komat – kamit mulutnya, sambil menunjuk goresan di punggung yang cacat tak berbulu.

 

Secara detail,  Dia   menjadi saksi akan tindakan Pak Sugali terhadapku, menyantet hingga membunuh Kakak Sunyi. Gumannya, setelah aku berlari dari mencuri tebu itu, Pak Sugali segera komat – kamit dan mengambil benda di dalam kantong sakunya. Tanpa ba bi bu, asap mengepul dari benda itu. Si Wirok melihat asap menuju arahku, beberapa saat kemudian, yang terjadi adalah aku terpelanting terseret arus dalam sungai progo, tenggelam. Itulah sebabnya, kami punya perasaan senasib sepenanggungan.

 

Sedangkan kecoa yang membuat aku berteriak sekencang – kencangnya, dia memperkenalkan dirinya sebagai Bu Cere. Dia hidup di bawah dipan kasur. Ia selalu bercerita, selalu saja bercerita di waktuku menjelang tidur. Anehnya, cerita yang ia dongengkan adalah cerita yang selalu sama, tentang anak – anaknya yang sering masuk ke jebakan undur – undur. Dia bercerita tentang betapa hebatnya dia dan Suaminya waktu bertarung menyelamatkan anak-anaknya. Malangnya,suaminya harus hilang nyawa masuk ke lubang undur – undur bersama anak – anaknya. Aku sungguh tak tega mengingatkan bahwa ceritanya di ulang – ulang. Ku dengarkan saja, hingga mimpi menjemputku. Beberapa waktu terakhir ini, aku mulai tahu bagaimana cara membuat diriku tak bosan – bosan mendengar ceritanya. Aku  terkadang memulainya terlebih dahulu sebelum dia bercerita. Ternyata kawan, Dia adalah Ibu yang mengerti bagaimana cara menasehati. Aku sering sekali mengeluh tentang diriku yang kini berubah status dari anak kecil nakal menjadi pembunuh. Dan aku pun selalu saja mengeluhkan hal yang sama, meskipun demikian Bu Cere selalu sabar mendengarkan dan memberikan nasehat dimana membuatku terlelap nyaman. Bukan karena kata – katanya, namun karena ungkapan cintanya. Ternyata itulah yang kami butuhkan kawan, di dengarkan, dan di cintai.

 

Selain itu di sisi  pojok atas almari, tinggallah Pak Onggo dan Bu Onggo. Mereka adalah keluarga baru yang sedang menanti anak – anaknya menetas dari telur.  Mereka pernah bilang kepadaku akan warna tubuh kecoklatan miliknya, berbeda dengan warna kawanan. Akibatnya  mereka terusir dari koloni. Bagiku, Ada hal yang mengesankan berkenalan dengan mereka, sering sekali aku diajak untuk  berbagi kasur empuk milik mereka. Kasur yang berasal dari benang – benang sekuat baja kawan!. Mereka juga sering mengajakku untuk melihat bintang dari atas gubuk, tertidur diatas ‘damen.

 

Semakin lama aku semakin betah dikamar. Semakin lama sahabat – sahabat sejatiku selalu membagikan cerita. Tapi aku tak pernah bercerita kepada Kakakku, ataupun orang lain. Aku yakin mereka tak akan percaya, bahwa hewan –hewan ini bisa bicara. Aku tak mau mereka menganggapku gila.

 

Taukah engkau Thaya? Saat ini, waktu yang paling tidak hambar bagi diriku adalah waktu malam selepas isya. Aku suka sekali mendengar cerita-cerita Pak Onggo. Berbagai cerita membawaku ke alam indah penuh  kejutan. Cerita yang paling aku suka tentang rumahnya, rumah paling hebat di dunia. Konon kata Pak Onggo, desain rumah itu diciptakan  Tuhan untuk melindungi nabi terhebat sepanjang zaman. Aku terperangah mendengarnya.aku terkesima dengan Pak Onggo, begitu pula dengan keluarganya yang dengan segala kesederhanaannya hidup penuh cinta.

 

Tapi yang paling aku tunggu – tunggu adalah Wirok. Aku belum bisa tidur jika dia belum datang, pernah satu hari saja dia tidak datang, maka tidurku tak terelakan lagi, terlelap di waktu subuh. Ada hal yang menarik karena berita nya selalu berkembang. Ya…informasi Pak Sugali. Banyak Informasi yang aku dapatkan dari Wirok tentang Pak Sugali. Bahwa ternyata Di rumah Pak Sugali, dia hanya hidup sendiri dan tentang kebiasaannya, seringnya dia mengeluarkan alat santetnya dari kantong saku, lalu menciptakan asap menggunakan jimat itu.Kata WIrok alat itulah yang harus selalu aku waspadai.

 

***

Hari berlalu, berganti hari lagi, kemudian bulan , hari berganti hari lagi, hingga genap dua bulan. Kehidupanku hanyalah mandi, sekolah, di dalam kamar lagi. Saat di sekolah, aku merindukan kamarku, dan rasanya ingin segera pulang kerumah. Hingga pada suatu hari, aku pulang kerumah dan terkejut sejadi – jadinya melihat kenyataan di dalam kamar yang telah berbeda. Semua rumah sahabat – sahabatku telah bersih, bersih hilang semuanya. Kakak Fatimah lah yang telah membersihkannya. Aku berteriak, berteriak sekerasnya hingga Kakak Fatimah terpelonjak dan menghampiriku. “ono opo itheng?”. Segala yang aku lakukan selama di kamar ini lepas melalui mulutku, segala rahasia ini lepas masuk ketelinga kakakku. Kakakku tertegun, dia menangis!. Aku yang melihat perubahan mimik wajah Kakakku justru diam. Kakak memelukku, menangis sejadi – jadinya. Aku pun menangis, menangis. “Ya Allah…ringankanlah beban Itheng!”. Dia berbisik kepadaku akan semua yang terjadi itu bukanlah kenyataan. Tapi aku tak percaya, hati dan pikiranku menolaknya. Saat aku ingin menyangkal, sangkalanku terhambat oleh semakin kuatnya pelukan Kakak dan semakin kencang tangisannya. Pelukan dan tangisan itulah yang membuat aku sadar akan kegilaanku selama ini, yang tak berani melawan kenyataan. Namun hatiku menolak, Kepalaku pusing, badanku bergetar, gigi atasku menekan kuat gigi bawah, seluruh badanku tegang. Otakku berat sekali. Aku berteriak keras…..sekeras – kerasnya, sejadi – jadinya. Bapak Ibuku datang, tetangga datang,hingga panas menyerangku, kejang  tak tertangguhkan, aku pinsan. Putih, gelap, putih lagi, aku tak sadar apa – apa setelah itu.Hanya tipis – tipis terdengar tangis.

****

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*