Mohon untuk tidak mengupload file materi perkuliahan yang berbentuk pdf, ppt, doc, xls ke Blog Staff UMY -- Silahkan upload file-file tersebut ke E-Learning Penyakit Gila, schizophrenia!!(Eka Ayuthaya Khanif putra IX) – Andy eko wibowo

Penyakit Gila, schizophrenia!!(Eka Ayuthaya Khanif putra IX)

Eka Ayuthaya Khanif Putra…

Waktu orang – orang mengatakan bahwa salah satu kenyataan yang membuatku ini masih tetap hidup adalah tertukarnya nyawaku dengan nyawa Kakak Sunyi, aku hanya bisa menangis. Di usia hampir genap 12 tahun, hal terberat yang harus dilalui adalah kenyataan  diriku pembunuh. Perasaan yang belum pernah aku rasakan muncul dalam hidup ini. Hambar!!Kadang mata enggan melek, otak begitu berat, kaki tak peduli dan diri ini hanya ingin berbaring.

Setiap terbangun dari tidur, rasanya tak tahu apa yang harus dilakukan. Hanya bisa diam, dan diam, lalu tertidur lagi. Satu – satunya yang memaksa untuk beranjak dari tempat tidur hanyalah perut, entah karena hajat besar atau malah lapar. Selebihnya tidur adalah kegiatan paling nyaman meskipun kepala tak nyaman, dan mata telah enggan terpejam.

Setelah itu pun, diri ini harus di paksa bangun oleh Keluarga, maka dengan sangat terpaksa hidup akan aku habiskan untuk bergerak – gerak di kamar tidur. Lalu seandainya diri ini di paksa untuk keluar dari kamar tidur, menuju Surau ataupun Sekolah, maka hanyalah diri saja yang ada disana, selebihnya pikiranku masih tertinggal di dalam kamar. Bukan karena suatu alasan aku rela meninggal pikiranku didalam kamar, tapi karena suatu mukjizat yang aku dapatkan setelah tergulung – gulung arus bawah Sungai Progo. Tapi aku mohon Ayuthaya! Jangan sampai orang lain tahu tentang ini cerita, Janji? Janji? Karena aku yakin, jika aku ceritakan pada siapa pun, mereka pasti menganggapku gila, kena sakit schizophrenia.

Baiklah…karena engkau sedikit memaksa, dan memang anak seusiamu itu selalu ingin tahu. Terpaksalah kuceritakan padamu. Tapi jangan tanya dari siapa mukjizat ini, karena ini sangat sangat sangat rahasia.

***

Setelah aku pulang dari pembaringan rumah para pesakitan, Aku bawa Anggrek ungu itu masuk ke kamarku. Ku taruhkan di atas meja sebelah kanan dipan, tempat biasa menimba ilmu maupun membayar hutang agar aku cepat khitan. Taulah engkau Ayuthaya, Kami, anak-anak  desa brosot, tidak akan di khitan apabila belum khatam Al-qur’an. Semakin lama kami khitan, berarti  akan semakin lama dipermalukan. Ini sungguh efektif untuk anak – anak desa seperti kami agar selalu rajin pergi ke Surau.

Samar – samar terdengar suara minta tolong, aku anggap sebagai halusinasi saja. Tak ku pedulikan, namun ternyata telingaku yang mempedulikan. Ku cari – cari di luar rumah sambil bergidik mrinding, tapi tak kutemukan. Suara pun hilang di luar. Setelah masuk ke dalam kamar, suara itu muncul lagi. Aku yang emosi berusaha mendekati suara itu. Bulu kudukku berdiri, suara bersumber dari almari. Semakin mrinding diri ini. Mrinding bukan main. Aku buka lemari, diri ini semakin mrinding, suara minta tolong itu tak kutemukan. Tapi suara itu semakin dekat. Aku terperanjat…benar – benar terperanjat! Tikus yang terjepitlah yang meminta tolong. Benar – benar shock!! Bulu kuduk ku kini berdiri semua. Aku tak bisa berteriak. Kakiku linu kaku mulutku kelu, mataku terbelalak melihat kejadian itu. Tikus itu besar, ekornya terjepit selit almari. Aku yang berdiri kaku tak tahu menahu apa yang terjadi tiba – tiba saja mataku berinteraksi dengan mata sang tikus, sayu – sayu memohon tolong. Entah tenaga apa yang menggerakkan kedua tanganku, tapi aku membuka daun pintu almari agar celah di pojok – pojok engsel melebar sehingga ekor tikus itu bisa lepas. Tikus itu lari tunggang langgang keluar melalui gedek yang bolong di kamarku.

Badanku dingin, mrinding mengalami kejadian itu. Aku langsung tertelungkap meloncat  dipan dan berselimut. Bantal aku tutupkan dikepala. Agar aku segera tidur. Nyata – nyatanya aku tak tidur, hanya terbujur tertelungkup kaku. Semakin lama semakin malam, pikiranku semakin kelu. Bulu kudukku tak turun – turun, ditambah dengan sayu –sayu suara reog , semakin lama membuatku semakin ngeri.

“hoi…shut…!”. Bergidik mrinding mendengar sapaan itu. Kali ini suara itu muncul di dekat telingaku sebelah kiri. Tak aku pedulikan suara itu, tapi suara yang sama seakan – akan mengajakku bicara.  “Assalamu’alaikum”. Kali ini suara yang sama mengucapkan salam. Terpaksa sekali aku menjawabnya meskipun bergidik ngeri. “Siapa?Jangan ganggu aku…!”. Aku mencoba mengangkat bantal yagn tadinya rapat di kepala dan memalingkan kepala ke kiri. Tepat didepan mataku, Kecoa, hewan itu menyapaku. Tak bisa lagi aku tak teriak, aku berteriak histeris…Seluruh isi rumah segera berlari ke kamarku dan mendobrak pintu. Aku , di atas dipan sambil bergetar mrinding. Kakak segera menghampiriku diikuti oleh emak dan bapak. Aku jelaskan ada tikus dan kecoa bisa bicara, tapi terus terang, mereka menganggapku terbangun setelah mimpi. Tembekur diam, dan sekali lagi aku berusaha menyakinkan, namun mereka hanya memeluk dan mengelus – elus kepalaku. Kakak mengajakku kekamarnya untuk tidur disana.

***

Ada sedikit rasa tak percaya dengan kejadian yang menimpaku tadi malam. Ku membenarkan Bapak dan Emak serta Kakak Fatimah yang menganggapku hanya bermimpi meskipun dalam hati tetap saja banyak sangkalan. Malam ini  kumencoba memberanikan diri untuk tidur membuktikan kebenaran atas segala sangkalan.

 

Belum juga magrib, bulu kudukku sudah berdiri. Otak ku berpikir keras memprediksi apa yang akan terjadi. Ada rasa penasaran di dalam diriku dan ingin membuktikan bahwa bukan sekedar mimpi yang terjadi disini. Aku memasuki kamar untuk menjalankan sholat magrib. Tekadku adalah memperebutkan milikku, yaitu kamarku.

Binatang malam mulai mengisi lagu – lagu sunyi yang didominasi oleh deru derasnya aliran  sungai progo. Suara jangkrik mbering masuk dalam tangga nada fals secara alami di padukan dengan suara detik jam dinding rumahku. ku awali ta’biratul ikrom dengan perasaan was – was tak khusu’. Terbayang – bayang bahwa diriku diamati dari belakang oleh sesuatu. Belum selesai al fati-ah mrinding sudah menjalar dari tengkuk ke seluruh tubuh. Hatiku segera mencegat rasa mrinding ini dengan perasaan mencekat bahwa jika ada apa – apa pasti saja aku bisa berteriak. Mana mungkin tak ada orang yang mendengar. Sialnya, aku ingat bahwa Bapak Ibu, dan Kakak Fatimah sedang pergi tak dirumah. Runtuhlah pertahanan yang aku bangun untuk mencegat rasa mrinding ini. 

***

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*