Mohon untuk tidak mengupload file materi perkuliahan yang berbentuk pdf, ppt, doc, xls ke Blog Staff UMY -- Silahkan upload file-file tersebut ke E-Learning Eka Ayuthaya Hanif Putra part 3 (bapakmu dan bapakku) – Andy eko wibowo

Eka Ayuthaya Hanif Putra part 3 (bapakmu dan bapakku)

Eka ayuthaya Hanif putra…..

Sebelum aku melanjutkan cerita yang akan memberikan engkau bekal di kehidupanmu kelak, aku akan memperkenalkan diriku terlebih dahulu. Bukankah engkau belum mengenal diriku  eka??

Namaku Andy Eko Wibowo, namun Keluargaku lebih sering memanggilku Njliteng. Panggilan ini tentunya sesuai dengan kulitku yang hitam legam, korban teriknya sinar matahari bersamaan dengan air sungai progo sewaktu aku mandi. Awalnya simbok ku yang memberikan panggilan itu. Mungkin, kau terkejud, kenapa nama anak desa sebagus itu. Sebenarnya namaku ini diambil dari tokoh kungfu kesukaan bapakku saat beliau nonton TV di tempat pak lurah. Bapakku berharap kepadaku, besok ketika aku besar bisa menjadi hebat sehebat aktor di film itu. Andy lau nama aktor itu. Selain hebat dalam berkelahi, aktor itu juga mempunyai wajah tampan rupawan. Namun pada akhirnya, tetap saja prediksi bapakku meleset karena kulit hitam, ketampananpun tidak bisa dipanggil sebelas duabelas, mungkin 180 derajat. Sedangkan eko wibowo berasal dari nama eyangku, eko bowo wisastro yang artinya paling berwibawa. Berwibawa no satu istilahnya.

Okelah Eka, saat ini, tak apalah engkau hanya mengenal nama dan asal nama ku saja. Saat kau menyimak sampai selesai cerita ini, engkau akan mengenalku lebih dari sekedar nama.

image

Oh iya eka…setelah dua bagian dari cikal bakal novelku muncul di blog, ternyata bapakmu, bapakmu yang lulusan Lanchaster itu, memprotesku. Memang bapakmu kuwi orang yang pinter mengkritik dan memprotes demi kebaikan ku.

Apa protes yang ia ajukan itu eka??mau kau tahu?dia memprotes tentang panggilanku terhadapmu. Panggilan Eka nampaknya tak rela di kenakan padamu. Dasar kolotnya bapakmu.

image ya…dia ternyata memanggilmu ayuth. Ayuth!!!

Apaan eka!!aku disuruh memanggilmu Ayuth…, jika memanggilmu dari kejauhan maka aku harus memanggilmu yuth yuth yuth!!.

Ah…dasar bapakmu, Eka…, ku tak tahu apa yang dipikirkan bapakmu. Kenapa dia memanggilmu seperti itu. Seumur – umur, aku bingung dengan bapakmu itu. Kenapa dia tak memanggilmu eka saja, kenapa harus ayuth!

imageimage tapi aku ingat eka. Kenapa bapakmu membela – bela panggilanmu tak berbentuk seperti itu. Aku paham benar setelah mengingat namamu itu, adalah tempat terindah yang pernah bapakmu kunjungi, di Thailand sana. Tapi cobalah tanyakan ke bapakmu, mungkin bapakmu itu kuper, tak pernah tahu tempat indah, sampai harus jauh – jauh ke thailand untuk memberi nama dirimu. Mungkin, saat lalu, dirimu lahir karena tak ditemani oleh bapakmu yang harus pergi ke thailand.

Tapi,ada benarnya juga bapakmu kuper. Untung pada saat kau lahir, aku tak menunjukkan tempat indah didaerah tinggalku . AKu juga tak rela lah jika engkau diberi nama Eka Brosot Hanif Putra. dan akhirnya panggilanmu dipaksakan oleh bapakmu menjadi bros, bros. APa jadinya engkau setelah besar nanti, lha wong yang aku aja, yang hanya tinggal di brosot  sudah sampai kadaluwarsa temen-temen ngeledek desaku ini, ngece desaku ini. Mreka ngece dengan kata – kata yang ada – ada saja, ada yang di tambahin huruf M di awalnya dan dijelasinnya, sehingga temenku memanggilnya mmmmmmmmmbrosot. atau ada temen yang lebih kurang ajar, memplesetkan nama brosot menjadi ‘glosot. Ada yagn lebih lebih lebih kurang ajar lagi eka, dia bahkan mengejek nama daerahku suster brosot, mirip suster ngesot.. memang, temen – temenku itu kurang ajar semua.

Tapi eka, aku tak akan malu mengakui daerahku, dan akan aku bawa nama daerah ini ke dunia, kemanapun aku berpijak. Daerah inilah yang telah membesarkanku, daerah inilah yang telah mendewasakanku, dan didaerah inilah kebahagian masa kecilku ada. Jika nanti aku tinggal di korea, dan ditanya oleh orang sana”당신이 나온 곳에서??”, maka aku akan sebut daerahku terlebih dahulu baru negaraku. Brosot!! Indonesia. Bila aku ada di amerika, dan obama menanyaiku daerah asalku,”where do you come from? maka akan aku sebut dulu Brosot, baru Indonesia. Jika aku di francis , orang – orang menanyaiku, “où venez-vous?, maka akan aku sebut brosot, baru indonesia. Akan ku buat nama Brosot, seperti nama Pulau dewata. Akan aku buat brosot, sebagai nama indah di belahan dunia manapun aku berpijak.

Okelah eka, mulai saat ini, mungkin akan aku panggil kau menjadi ayuthaya…untuk menghormati bapakmu.

Oh iya, Tolong ya ayuthaya, ingetin  bapakmu itu,untuk ngambil ijazah S2 yang di gadjah Mada. Entah alasan apalagi yang akan dia buat saat engkau ingatkan. Dulu, dia beralasan belum punya uang untuk wisuda. Pada saat sebelum kau lahir, dia beralasan akan mengambilnya setelah lahir. Namun setelah kau lahir, alasannya ada – ada saja, sudah terlalu sibuk rutinitasnya sebagai dosen. Dasar bapakmu itu eka!

Nanti di tulisan selanjutnya, akan aku ceritakan tentang bagaimana watak bapakmu itu, tapi nanti Thaya!! Sekarang adalah waktunya kau mengenal bapakku, bapak paling hebat sedunia. namun sebelumnya, aku akan meminta izin kepada bapakmu, agar aku memanggilmu thaya saja, karena rimanya lebih bagus, daripada ayuth.

Cerita bapakku, kumulai dari kata sungai.

Di desaku, tepatnya seratus meter dari rumahku, ada sungai. Lain Thaya dengan sungai progo. Sungai yang ini, airnya jernih, alirannya indah seperti aliran sungai – sungai dipedesaan pada umumnya. Banyak batu-batu besar, terkadang aku bermain bersama teman-temanku. Memancing, memandikan kerbau, dan gogoh.

Disungai ini yang paling seru adalah saat mancing bersama bapakku. Umpan bapakku sangatlah hebat. Kata beliau umpan ini dia formulakan khusus dan hanya beliau yang tahu formulanya. Kata beliau juga, klo aku sudah smp dan diterima di smp favorit kabupaten kami, aku akan diberi tahu formulanya. Tapi dengan syarat tambahan, jangan sampai membocorkan rahasia formula ini kepada siapapun.

Kami tidak pernah pulang dengan tangan kosong, Thaya! pasti bawa ikan buat lauk makan malam kami sekeluarga. Bahkan pernah Thaya, kami membawa pualng ikan sebesar dirimu usia lima hari, beratmu berapa Thaya? Mungkin kamu kalah, karena ketika ditimbang beratnya mencapai 5 kg. kata orang, ikan itu namanya brahscap. Kami sempat membagi-bagi ikan ini ke seluruh rumah se RT.

Kata orang, memancing itu harus sabar. Memang benar itu, thaya! Taukah kamu? bapakku adalah orang yang paling sabar sedunia. Mau tau kenapa? Aku ceritakan thaya.

Waktu itu kami memancing di malam hari. Kami hanya membawa satu pancing. Karena kami memancing pada malam hari, maka bapakku memasangkan klinteng di ‘walesan’nya, agar kalau dienduk, berbunyi. Nah, kebetulan bapakku memilih tempat di bawah pohon di mana ranting-rantingnya menjorok ke arah sungai. Bapakku saat itu memancing menggunakan bandul dan harus dilempar ke tengah sungai. Setelah melempar kail ke arah tengah, bapakku segera meletakkan pancing di tempatnya dan duduk sambil menyebul rokok yang telah disumetnya. Waktu itu gelap gulita, aku hanya bisa melihat gigi bapakku ketika bicara. Di langit sebenarnya banyak bintang, tetapi mereka hanya mengintip kami berdua, tak bisa memberikan sinarnya secara leluasa, karena diatas kami ada tabir berupa ranting –ranting yang rimbun. Sementara sinar matahari yang dipantulkan oleh bulan tertutupi secara langsung dengan sendirinya oleh bumi, maklum, bulan baru. Lama-kelamaan aku terlelap, terpejam berbantalkan ‘pupu’ bapakku dan denagn alas tikar daun pandan buatan ibu.

Azan subuh membangunkan aku dari pangkuan bapak, masih dengan sabar menunggu pancingnya yang semalaman nampak tidak tersentuh  ikan sama sekali. Kenapa aku bisa tau padahal aku tertidur? Karena biasanya, gerakan sedikit bapak akan mampu membangunkanku. Aku dan bapakku segera mengambil wudhu dari air di botol aqua, yang sudah disiapkan beliau. Shalat jamaah kami lakukan. Aku waktu itu baru hafal bismillah saja, jadi kata bapakku, setelah Allahu Akbar, baca bismillah sebanyak mungkin dan pahami artinya. Aku hanya mengiyakan. Sambil mengikuti gerakan bapakku, aku melihat-lihat keadaan. Kadang menoleh ke kanan, ke atas, ke bawah, sambil memainkan kaki yang mulai kepegelan, karena bapak baca surat yang panjang sekali. Aku mulai bosan dan pegel, dan di rakaat kedua, untuk menghilangkan jenuhku, aku mulai mengamati pancing bapak. Ada keanehan di senarnya, matahari, meskipun masih layu, tapi punya tenaga untuk membagi sinar kepada mataku, untuk menunjukkan pancing bapakku, ternyata umpannya tidak tenggelam ke sungai, tapi nyangkut di ranting atas yang menjorok kearah sungai. Sontak, aku tertawa terbahak-bahak, lupa akan shalatku. Aku yang masih kecil waktu itu, thaya! tertawa sambil memeluk bapakku yang waktu itu tahiyat akhir. Bapakku masih melanjutkan shalatnya dengan khusyu meskipun kupeluk dan tertawa terbahak-bahak. Setelah salam, baru bapakku bertanya padaku, “ono opo tho thole?” Aku yang masih tertawa terbahak-bahak tak mampu menjawab, hanya menunjuk ke arah pancing, dan reaksi bapakku, ya tertawa, ikut terbahak-bahak. “Oalah, jebule!” Sambil beranjak dari tikar untuk menarik kail yang tersangkut, tetap tertawa terbahak-bahak.

Itulah sepenggal cerita kesabaran bapakku. Oh iya Thaya, jika nanti bapakmu atau orang lain mengatakan kalau memancing itu membuang-buang waktu dan sia-sia, kamu jangan Cuma iya-iya saja. Itu salah besar. Bapakkulah yang mematahkan pernyataan itu. Begitu aku masuk SD, setiap harinya aku lebih suka ikut bapak memancing, entah itu sore atau malam. Kenapa? Karena bapakku mengajari berbagai hal saat memancing itu. Beliau juga menyuruhku untuk membawa buku-buku yang akan dipelajari besok di sekolah. Bapakku juga mewajibkanku mengerjakan PR terlebih dahulu sebelum memancing.

Di pinggir sungai inilah aku diajari bapakku perkalian dengan menggunakan jari, trik-trik cepat mengerjakan bumbung sumsum matematika, bahkan sampai penerapan bagaimana kita harus punya rasa ingin tau, yang saat aku besar sering orang – orang sebut what, who, where, when, why, dan how. Bapakku gemar sekali menyanyikan tembang-tembang macapat, dari Pucung sampai Asmaradana, maupun Dandanggula saat aku mengerjakan latihan-latihan soal pelajaran. Suaranya merdu, mengencerkan otakku melibas habis soal – soal. Beliau juga sangat gemar  menulis thaya, ya! Menulis! Karya – karyanya selalu terbit di tabloid nova, tabloid beken saat itu, nama penanya sama dengan nama aslinya, Dwi Yanto.

Di tepi seungai itu, seringkali bapakku mengajarkanku hal-hal yang nyeleneh bagiku namun bisa dijelaskan dengan hukum fisika. Yang membuat aku takjub adalah ketika ada korek nyala yang ditangkupkan ke gelas dimana di bawahnya ada piring berisi air kopi, airnya akan naik ke gelas yang terbalik tadi. Aku begitu takjub, dan mulai bertanya, kok iso? Lalu bapakku menjelaskan adanya udara yang harus keluar tapi harus ada penggantinya yaitu air saat api berkobar. Fisikawan dunia menjelaskan secara rinci, dan bapakku memberi dasar yang esok suatu hari akan aku pelajari di pelajaran IPA. Pernah juga saat itu, aku membawa balon. Bapakku menunjukkan bahwa balon yang diisi dengan air, lalu  ditiup, ternyata setelah di bakar tidak meletus ataupun bocor. Aku takjub!!!

Bapakku juga seringkali menceritakan kisah para nabi. Yang paling aku suka adalah akhir cerita Nabi Musa, di mana bapakku memperagakan bagaimana mekanisme pembelahan air laut yang digunakan untuk menyeberang dan menenggelamkan Fir’aun. Beliau mengambil piring yang sengaja dibawanya untuk makan malam, kemudian menuangkan sedikit saja kopi, lalu beliau meniupnya. Dan kau tau Thaya, apa yang terjadi? Bapakku juga menanyakan hal sama padaku. Aku menjawab. “Airnya muncrat.” Bapakku bertanya, “Ada lagi?” “Permukaannya kelihatan, padahal yang lainnya kena genangan kopi. Nah, itulah theng, mu’jizat yang dimiliki Nabi Musa, ia mampu meniupkan angin atas izin Allah ke Lautan Merah, sehingga air naik ke sisi-sisi sampingnya. Aku begitu takjub, dan begitu percaya akan kebesaran Allah. Dan kini, aku lebih takjub lagi akan kebesarannya, saat aku membaca Kaskus, karena ilmuwan-ilmuwan telah bisa membuat simulasi kejadian alam tersebut.

Thaya, begitulah alasan kenapa aku tak setuju jika orang-orang menganggap memancing adalah kegiatan yang tak bermanfaat. Karena dengan memancing ini, aku bisa masuk SMP terfavorit di Kabupatenku tanpa harus les privat di bimbingan belajar yang tentunya bapakku tak sanggup membiayainya.

Thaya, yang ingin kusampaikan padamu bukanlah kamu harus memancing. Bukan!! Yang ingin aku sampaikan adalah buatlah seluruh waktu luangmu itu menjadi emas, entah itu menghasilkan manfaat bagi dirimu atau orang lain. Tidak ada kata menganggur dalam kamus kehidupan, thaya! karena itu kau harus sadar diri.

adapun thaya, apabila dirimu ingin belajar management waktu, aku memiliki tips khusus yang bisa kamu baca di blogku atau ada di dalam buku raih medalimu yang bisa kamu downlaod gratis, ini alamatnya

 

ne management waktunya…

http://itheng.blogspot.com/2011/01/share-cara-management-waktu-terbaruku_25.html

http://itheng.blogspot.com/2010/05/berprestasi-di-farmasi-siapa-takutipk.html

 

ne bukunya……

http://itheng.blogspot.com/2010/10/buku-pertama-raih-medalimusebuah.html

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*