Mohon untuk tidak mengupload file materi perkuliahan yang berbentuk pdf, ppt, doc, xls ke Blog Staff UMY -- Silahkan upload file-file tersebut ke E-Learning Eka Ayuthaya Hanif Putra, part 2 (kakakku….) – Andy eko wibowo

Eka Ayuthaya Hanif Putra, part 2 (kakakku….)

RT 18/RW 16, Dusun Klampok, Kelurahan Brosot, Kecamatan Galur, Kabupaten Kulon Progo! Inilah alamat dimana aku tinggal, Rumahku, rumah terindah dalam hidupku. Di rumah kecil ini sering sekali aku menghabiskan waktu berantem dengan kakakku, fatimah anwar. Kakak yang saat aku masih kelas empat SD, dia sudah berusia 20 tahun. Seperti apa eka, gambaran kakakku? Akan aku ceritakan.

 

Kakakku memiliki fisik yang sangat berbeda sekali dengan aku eka. Jika kulitku hitam legam, maka kulit kakakku putih bersih dan tipis. Jika dilihat dengan seksama, dibagian tangan dan pipinya terlihat kemerah-merahan dan garis hijau. Gimana ya eka!aku sulit sekali mengungkapkan. Merah dan hijau itu adalah nadi yang terlihat karena saking tipis kulitnya eka. Lesung pipit hanya ada di bagian pipi kirinya. Bisa membayangkan kan? Penampilannya anggun, jika di hadapkan oleh cowok – cowok yang meng apel di gubuk kami. Dia selalu bisa memilih kata – kata untuk dikeluarkan dari mulut kecilnya sehingga cowok – cowok itu tertarik dengannya. Bukan maksud dia menarik perhatian cowok – cowok, tapi memang begitulah adanya kakakku, kakak yang aku sayangi. Namun eka, jangan disalah artikan. Kakakku bukanlah wanita yang sering berganti – ganti pasangan. Dia hanya menghormati tamu yang datang kerumah kami. Tamu kakakku adalah teman – teman kuliahnya. Oh iya, kakakku kuliah di UGM eka, fakultas Farmasi.

 

Sering kali mereka membawa setumpuk bahan materi dan kotakan seperti Televisi yang bisa dilipat, yang ketika sudah lebih dari satu jam dinyalakan akan langsung mati. Dengan matinya kotakan itu, maka berakhir sudah teman kakakku itu menempelkan jari diatasnya. Sering kakakku tersenyum dan tamunya mengacung – acungkan jari ke arah kakakku, sambil berteriak “good idea, jenius fatimah, jenius!!”. “kakakku tersipu malu dan melihatkan lesung pipitnya yang hanya ada di sebelah kiri. Aku pernah mengamati tentang antusiasnya kakakku terhadap pembicaraan lulur. Bukan sembarang lulur, kakakku bilang kepada tamu itu,”kita buat formulasi lulur effervescent! Lulur ini akan membuat kita seperti ekstra jos ketika berendam di air”. Tamu kakakku kembali mengacung – acungkan jarinya.

 

Aku bangga sekali dengannya eka, karena tak hanya itu saja ide – ide jenius kakakku eka. Pernah ada mahasiswa, datang ketempatku menggunakan mobil Jazz merah yang bawahnya sudah diceper. Dia sampai menggebrok – gebrok meja sambil tertawa girang setelah mendengarkan kakakku berbicara. aku sempat mendengar samar, kakakku berbicara tentang membuat alat tambal ban yang di alat tersebut sudah tersedia lem, wadah karet, penyongkel, pemanas, dan pompa”. Tidak sebatas omongan saja, tapi kakakku juga langsung mengambil kertas dari bawah mejanya dan pulpen yang ada di depannya sambil mencoret – coret kertas itu. Setelah berhenti, tamu itu lah yang anarkis menggebrok – gebrok pintu. Selain itu, aku mendengar dari kakakku tentang “call service tambal ban!”. Begitu terlantun ide itu, tidak hanya gebrok-gebrokan meja yang ada, bahkan teman kakakku itu geleng –geleng kepala mengagumi kejeniusan kakakku.

 

Aku bangga dan bangga sekali eka, tambah bangga. Karena setelah ide – ide jenius kakakku itu terlontar, satu sampai dua bulan kemudian tamu itu mengantarkan medali dan segepok amplop. Di kamarnya ada sepuluh medali yang terpajang manis dan bingkai piagam dari kardus memenuhi dinding kamarnya. Tamu-tamu yang mengantarkan medali itu selalu saja mengatakan kata yang hampir sama,”coba kamu ikut fatimah, pasti kamu akan jadi penyaji terbaik!power pointmu, idemu, dan animasimu selalu mendapatkan pujian dari para dewan njuri”. Kakakku hanya menjawab dengan senyum mungil manisnya dan ceria sambil melihat aku, menatap aku bahagia. Aku tahu kakak, dirimu tak pernah bisa ikut karena menjaga kami, adik- adikmu.

 

Tapi sayang sekali eka, kakakku tidak mampu melanjutkan kuliah itu. Jelas, bukan karena kakakku bodoh, tapi karena kami tak mampu membayar biaya hidup disana. Janganlah bertanya apa kakakku tak mendapat beasiswa! Kakakku mendapatkannya, tapi biaya hidup dan kos tak mampu bapakku menyokongnya. Aku bangga dengan kakakku ini. Lebih bangga lagi saat dia masih tetap tegar dan ceria sama seperti dulu ketika menerima tamu – tamu nya, tak ada rasa berkecil hati. Dia tetap menanyakan kuliah teman – temannya dan tetap saja ide – idenya diluncurkan kepada mereka meskipun kakakku sudah tidak pernah lagi dibawakan medali, namun tetap segepok uang. Bahkan eka, yang membuat tamu – tamu itu semakin betah, mereka sepertinya menganggap kakakku itu sebuah mentor dan tutor. Bahkan kini kakakku punya papan tulis sendiri di ruang tamu, untuk menggambarkan bermacam – macam bentuk segi lima yang ada doublenya seling seling, kemudian di modifikasi di tiap pucuknya. Kata kakakku itu struktur kimia. Dia pernah bercerita padaku,”Nganggo struktur kimia iki njlitheng, kita iso gawe obat – obat sing dibutuhke uwong – uwong!”. setengah tak percaya aku antusias bertanya – tanya lagi kepada kakakku.

 

Aku bangga sekali eka, lebih bangga lagi, ketika empat tahun kemudian, saat kakakku sudah mempunyai suami dan anak, ada seseorang pria tampan berwibawa yang datang dan memberikan buku kepada kakakku. Buku itu tebal berwarna biru dongker. Aku membukanya, dan di halaman persembahan ada sebuah cerita yang begitu indah tentang kakakku.

Dulu, 1995, menjelang engkau pergi dari fakultas ini, dari Kampus ini, Engkau telah membuat sebuah kebanggaan bagi diriku, kebanggaan yang masih aku ingat sampai kini. Ingatanku pada masa lalu, saat itu usai semester dua, dimana engkau mumutuskan untuk out dari bangku kuliah dengan sangat sangat sangat terpaksa, dan mungkin hanya aku yang paham akan kondisimu saat itu, aku bangga sekali karena engkau beri kepercayaan itu. Waktu itu, engkau pernah berkata “aku pengen ikut remed, memperbaiki nilai KO ku yang E dan juga nemeni erna belajar, kasihan dia, klo G ada aku G bisa belajar, bantu kita ya mas, ajari kita!!!”. Tertegun, usai aku mendengar itu, aku bener – bener luluh, bener – bener sekujur tubuhku lemes, dengan kondisi seperti saat itu, engkau masih memikirkan sahabatmu, masih ingin membuat sesuatu yang indah buat sahabatmu. Banggaku muncul mulai dari situ. Dengan rasa bangga itu, aku putuskan  untuk memberikan peluang dirimu mengikuti remed. Ya, waktu itu aku daftarin kamu tanpa sepengetahuan kamu dengan uang hasil keringatku .

Ada kejadian yang sangat meharukan saat aku memberikan kartu tanda remed untukmu. Waktu itu di UPT (masih ingatkah engkau??), aku memang sengaja cari gara – gara sama erna yang katanya mau belajar tapi telat banget. Tujuanku agar kamu nya nemeni erna untuk minta maaf, karena saat itu erna merasa bersalah sekali dan kamu menyendiri dalam kesedihan, enggan muncul ke permukaan. Rencanaku berhasil memancingmu untuk keluar dan aku berikan kartu itu serasa berkata “buat aku bangga, paling tidak ini permintaan terakhirku!!!”. Dirimu menangis, menitikkan air mata, namun tangis itu adalah tangis paling indah yang pernah aku lihat, indah sekali…Kau hanya diam, diam, diam, diam, diam, dan menatapku. Aku sadar tatapan itu adalah tatapan terakhirmu, karena tak akan pernah lagi aku melihat tatapanmu, bahkan saat kepergianmu. Tatapan itu adalah jawaban dari permintaanku.

Beberapa minggu kemudian nampak terpampang nilai A untuk mata kuliah itu. Aku tahu seberapa keras perjuanganmu mendapatkan nilai itu dalam kondisi yang engkau hadapi, aku tahu itu!!!!dan aku juga tahu, bahwa itu adalah jawabanmu, aku bangga!!aku bangga dengan itu, meskipun setelah muncul nilai itu engkau telah pergi meninggalkan kenangan – kenangan yang tak akan aku lupakan. Pada saat itu aku berjanji, berjanji pada diriku sendiri, “selesai studiku, juga untukmu…aku persembahkan untukmu…, dan akan aku tuliskan namamu dilembar persembahan skripsiku, karena kelulusanku sebagai wujud timbal balik akan kebanggaanku. Aku bangga pernah mengenal dirimu. Aku bangga!!!

Hari ini, kupenuhi janjiku dengan rasa bangga, kuselesaikan cita – citamu, keinginanmu, meskipun aku yang menyelesaikannya, Fatimah Anwar !!!. Salam untuk anak dan suamimu…..

 

Mulai dari membaca itulah, aku berjanji kepada diriku sendiri, “akan ku buat sebuah kebanggaan untuk kakakku tercinta, fatimah anwar. Aku tak akan bermain – main dengan studiku dan akan kusaingi jumlah medalinya”.

4 Comments on Eka Ayuthaya Hanif Putra, part 2 (kakakku….)

  1. ha ha ha, wah kalu kamu kan namanya itheng! ya mbok mbakmu ki dijenengke Bawang opo Mbak Ragi ngono ben pas….mosok adine jenenge ithen tapi mbake fatimah anwar….kan ga nyambung!!!!

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*