Mohon untuk tidak mengupload file materi perkuliahan yang berbentuk pdf, ppt, doc, xls ke Blog Staff UMY -- Silahkan upload file-file tersebut ke E-Learning pharmacokinetiks drug interaction (interaksi obat pada tahap farmakokinetika) bagian 2 – Andy eko wibowo

pharmacokinetiks drug interaction (interaksi obat pada tahap farmakokinetika) bagian 2

 

dear temen-temen….ini adalah lanjutan dari pertemuan 1 interaksi obat yang di ampu oleh Septimawanto Dwi Prasetyo, S.Farm., M.Si., Apt. materi bisa di clik disini

Pengaruh waktu pengosongan lambung

 

semakin lama obat tertahan di lambung, maka absorbsi obat tersebut di dalam usus akan semakin lama. Dengan demikian, apabila terjadi peningkatan kecepatan pengosongan lambung, maka akan terjadi peningkatan absorbsi obat. Dan ternyata peningkatan absorbsi obat ini menyebabkan efek toksik karena tingginya kadar obat di dalam darah.

hal ini berbahaya untuk obat – obat yang memiliki indeks terapi sempit dimana saat obat masuk ke dalam lambung bersama dengan obat – obat yang memiliki kemampuan mempercepat pengosongan lambung, maka obat yang indeks terapi sempit tadi akan meningkat kecepatan absorbsinya. Akibatnya kadar obat dalam darah pada periode awal, konsentrasinya meningkat melebihi batas toksik.

image

Nampak jelas bahwa apabila obat 1 di minum sendiri, kadar dalam darah berada pada therapeutic effekc. Namun dengan adanya obat 2 (drug 2) yang bersifat mempercepat pengosongan lambung,akan meningkatkan konsentrasi obat 1 (drug 1) dalam darah sehingga menyebabkan toksik.

 

Pertanyaannya adalah, siapa saja obat yang meningkatkan waktu pengosongan lambung ?

metoclopramide, reserpine, anticholinesterase, sodium bikarbonat

pertanyaannya lagi, bagaimana mekanisme obat – obat ini dapat meningkatkan pengosongann lambung????

masih mau tak tanyakan pertemuan besok.

ternyata, ada juga obat obat yang berlawanan, yakni menurunkan waktu pengosongan lambung.

isoniazid, central analgetik, morphine, chloroquine, phenytoin, AlOH, MgOH

pengaruh kecepatan darah di usus

kecepatan aliran darah di usus bisa menjadi rate limiting step fase absorbsi untuk obat – obat lipofilik. Namun, faktor ini sangat kecil sekali berpengaruh, kecuali kepada orang yang punya penyakit – penyakit berkaitan dengan aliran darah. Kecepatan aliran ini dipengaruhi oleh vasokonstriksi dan vasodilatasi pembuluh darah.

 

EFEK MAKANAN TERHADAP ABSORBSI OBAT

Disini adalah jawaban kenapa obat ada yang diminum setelah makan, sebelum makan, dan saat makan. Salah satu jawabannya adalah berkaitan dengan absorbsi obat.

ada obat yang ketika digunakan dengan makanan (berlemak) absorbsinya menjadi lebih kecil dibandingkan diminum sendiri.

image dan begitu pula sebaliknya.

 

disini ada dua hal yang menarik,

1. ampicilin merupakan obat antibiotik yang efeknya sama dengan amoksisilin. Pada saat ini, amoksisilin lebih digemari /diresepkan  oleh dokter dari pada ampicilin. Hal ini ternyata juga berkaitan dengan efek makanan dimana ampicilin ternyata absorbsinya dipengaruhi oleh kosong tidaknya lambung, dan ampicilin harus di minum pada saat lambung kosong(sebelum makan). Hal ini menyebabkan dokter berpikir dua kali untuk meresepkan dan memilih amoksisilin dimana absorbsinya tidak berpengaruh terhadap makanan.

2. aspirin ada di dua daerah, yakni absorbsinya berkurang dan absorbsinya di tunda. Timbul pertanyaan yang belum bisa aku jawab???

namun bila kita menggunakan aspirin maka harus digunakan dengan interval stelah makan (1 jam).

 

INTERAKSI DALAM FASE DISTRIBUSI

kemungkinan terjadinya interaksi sangat kecil bagi orang – orang normal. Interaksi dalam fase distribusi sesungguhnya berkaitan dengan pendistribusian zat aktif ke seluruh tubuh. Yang paling berpengaruh pada pendistribusian ini adalah protein plasma(albumin).

 

Oleh karena itu, interaksi ini akan sering terjadi pada pasien yang hipoalbuminemia, gagal ginjal, atau penyakit hati yang berat, ikatan obat yang asam dengan albumin, serta menurunnya eliminasi obat. Biasanya dokter sebelum menginjeksikan obat pada orang – orang hipoalbumin, beliau menginjeksikan albumin terlebih dahulu agar obat bisa didistribusikan dengan baik. Hal ini sangat diperhatikan terlebih – lebih apabila obat memiliki sifat :

punya ikatan kuat dengan protein plasma (85 % & Vd kecil)

indeks terapi sempit. Berkaitan dengan toksisitas obat dalam darah jika tidak terikat dengan protein albumin

INTERAKSI OBAT DALAM FASE METABOLISME

dalam interaksi di bagian ini, obat yang berinteraksi di bagi menjadi dua bagian. Bagian pertama yakni obat yang meng – inhibisi, yakni obat yang menghambat enzim pemetabolisme obat lainnya. Misalnya Dicumarol merupakan penghambat enzim pemetabolisme dari chlopropamide, phynitoin, dan tolbutamid. dengan demikian, apabila dicumarol di minum bersamaan dengan phynitoin, maka phynitoin menjadi sedikit yang dimetabolisme. akibatnya kadar phynitoin aktif dalam darah lebih lama keberadaannya sehingga bisa lebih berefek atau bahkan lebih toxik.

image

bagian kedua yakni obat/zat yang meng-induksi enzim, yakni obat yang menginduksi enzim pemetabolisme obat lainnya. Sehingga dengan adanya penginduksi enzim ini, maka apabila obat yang seharusnya dimetabolisme oleh enzim tersebut lambat, menjadi lebih cepat. akibatnya kadar obat dalam darah lebih cepat turunnya sehingga tidak berefek. contoh zat yang sangat berpengaruh adalah etanol dimana pada pemabuk, ternyata dosis obat terkadang harus ditingkatkan agar menghasilkan efek yang sama dengan orang yang meminum obat dengan dosis normal.

image image pada rifampicin dengan contrasepsi oral, efek menjadi efikasi kontrasepsi oral menurun dan menyebabkan siklus menstruasi menjadi tidak teratur.

mekanisme dari rifampicin ini termasuk menginduksi enzim pemetabolisme kontrasepsi oral sehingga obat kontrasepsinya menjadi lebih cepat dimetabolisme. selain itu ada literature yang mengatakan bahwa kapasitas globulind alam mengikat hormon meningkat. AKibatnya hormon dalam bentuk bebas rendah sehingga efek menjadi kecil

pengatasannya adalah dihentikan kontrasepsi oralnya diganti dengan yang bukan hormonal, seperti kondom, spiral, dan lainnya.

 

Fenobarbital dan Kumarin(antikoagulan).

efek antikoagulan menjadi lebih rendah. mekanismenya fenobarbital menginduksi enzim pementabolisme dari kumarin.

cara pengatasannya adalah meningkatkan dosisnya sedikit demi sedikit jika monitoring efek kagulannya turun. Namun apabila fenobarbitalnya dihentikan pemakiannya, maka kumarin pun dosisnya harus di kembalikan normal.

 

khusus untuk interaksi obat enzim pemetabolisme, dapat juga lebih detail belajar materinya Prof., Dr. Lukman Hakim, M.Sc, Apt. disini

bersambung………..

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*