Mohon untuk tidak mengupload file materi perkuliahan yang berbentuk pdf, ppt, doc, xls ke Blog Staff UMY -- Silahkan upload file-file tersebut ke E-Learning Pharmaceutical care practice domain – Andy eko wibowo

Pharmaceutical care practice domain

Dear kawan, kali ini andy akan membicarakan tentang ruang lingkup yang dilakukan farmasis untuk melayani pasien. Apa sih ruang lingkup pharmaceutical care tersebut antara lain :

1. Management resiko

   maksudnya adalah bagaimana farmasis itu dapat memberikan pelayanan ke pasien sehingga resiko – resiko yang di tanggung pasien dalam menggunakan obat itu menjadi kecil. Farmasis harus berinteraksi dengan pasien, orientasi interaksi tersebut adalah menghasilkan keluaran (outcome) yakni keberhasilan suatu terapi dan mampu mengoptimalkan kualitas hidup pasien dengan resiko sekecil – kecilnya. 

    Agar pasien mendapatkan resiko yang kecil dalam menggunakan obat saat terapi maupun pada kondisi wellness, maka farmasis sebagai pelayan harus melakukan:

    a. Farmasis harus mempunyai sistem untuk mengoleksi data – data pasien. maksudnya farmasis harus mempunyai sistem untuk menampung data-data pasien. (Devise system of data collection)

     b. farmasis harus melakukan review penggunaan obat secara prospectif. (perform prospective drug untilization review). artinya apa??

review obat itu ada dua macam, yakni review prospektif dan retroprospective. Prospektiv adalah review obat sebelum obat diterima oleh pasien, farmasis harus metinjau apakah obat rasional atau tidak. misal sebelum obat diberikan ke pasien, apakah punya potensi problem terapi atau tidak, misal saja farmasis memberikan obat amoxcicilin, pasien alergi penicillin, maka klo diberi amoxicilinakan terjadi alergi juga, maka  dapat dicegah dengan melakukan review prospektif. Untuk melakukan review yang dibutuhkan adalah data pasien yakni pernah mengidap jenis penyakit apa dan obat apa yang digunakan serta contra indikasi. Baru setelah mempunyai data pasien  kita dpat melakukan review. Dalam review , kita harus tahu problema terapi obat, (kriteria problema terapi obat akan dibahas di blog selanjutnya red.) Sedangkan review retrospoektif adalah review setelah obat diberikan pasien, kemudian respon dari pasien terhadap obat itu di catat. Kemudian hasilnya di review, apakah pasien sembuh atau pasien tidak sembuh, nah..berarti ada problema terhadap obat yang diberikan, maka harus direview untuk terapi selanjutnya. Misalnya obat antimikroba, pasien tidak kunjung sembuh, maka akan terjadi resistensi. perlu direview dan tindak lanjut.

    c. Segala sesuatu yang dilakukan terhadap Pasien maka harus dicatat. obatnya begini-begitu , maka perlu dicata. Obatnya harus dicatat. Farmasis punya dokumentasi sehingga klo ada komplain dari paseien atau dituntut di kepolisian karena ditujudh mall praktek, ada catatan. (Document therapeutic interventions and activities)

    d. Meminta kepada pasien, informasi tentang obat yang digunakan pasien dan tanpa resep. Hal ini terkait bahwa terkadang obat OTC (obat tanpar resep), juga mempengaruhi obat –obat yang akan diresepkan. Misalnya saja, aspirin atau asetosal yagn merupakan obat tanpa resep, maka harus ditanyakan apakah menggunakan obat ini atau tidak apabila selanjutnya ternyata saat farmasis akan memberikan obat warfarin (antikoagulan) kepada pasien. Hal ini karena asetosal akan berinteraksi dengan warfarin dimana meningkatkan aktifitas dari warfarin sehingga pasien menjadi /mengalami pendarahan. obtain over the counter medication history

    

    e. Farmasis perlu melakukan calculated dosages, utamanya obat yang mempunya narrow therapeutic index, karena farmasis harus paham bahwa obat –obat dalam jenis ini mempunyai resiko yang sangat besar , karena apabila kadar obat dalam darah melebihi Maximum terapheutik concentration akan terjadi ketoksik kan. Sedangkan apabila kurang dari minimal efek concentratition tidak mempunyai efek klinis. Sehingga farmasis harus benar –benar tahu dosis terapi seuatu obat.   (calculate dosages for drugs with a narrow therapeutic index)

    f. Farmasis harus segera melaporkan, apabila menuemukan adverse drug event (kejadian efek samping dari obat ) kepada regulatory agent (di Indonesia BPOM). Maksudnya apa? karena obat yang dipasarkan itu terkadang adverse drug eventnya ditemukan tidak pada saat pengujian di lab, namun sering kali ditemukan setelah obat direlease di pasar dan biasanya ditemukan oleh farmasis. maka apabila hal ini tejradi, maka segera di laporkan agar bisa segera ditindak lanjuti. (report adverse drug events to regulatory agent

   g. Adalah suatu keharusan bagi farmasis untuk menganjurkan pasien pergi ke mana lagi dalam rangka menyelesaikan masalah terapinya. misal awal mulai memakai obat, terjadi rasa nyeri dalam dada, rasa nyeri itu merambat ke tangan , ujugn tangan. farmasis tahu bahwa itu adalah gejala penyakit jantung angina pectoris, namun farmasis tidak mempunyai keahlian dalam mendiagnosa, maka farmasis harus menganjurkan pasien tersebut untuk pergi ke dokter spesialis penyakit dalam untuk didiagnosa. klo penyakitnya ringan , dan farmasis mampu memberikan terapi tersebut maka dapat dilakukan farmsis tanpa harus melakukan tindakan proper referral. hal ini sering disebut responding rival. triage patient;s needs for proper referral.

   h. agar resiko penyakit kecil, farmasis harus selalu memperbaharui pengetahuannya untuk mengikuti perkembangan Update ilmu pengetahuan tentang adverse effect dan drug interaction (remain abreast of newly uncovered adverse effect and drug-drug interaction)

 

2. Pendampingan pasient (pasient advocacy)

farmasis perlu melakukan pendampingan dalam hal :

    a. drug terapi apbila pasien mengalami hambatan –hambatan baik sosial, ekonomi maupun lainnya. Pasien mengeluh obat terlalu mahal, maka farmasis harus bijaksana dan memilihkan obat sesuai dengan kondisi pasient.

    b. mencobat untuk mengubah orde obat yand iperoleh pasien jika ada hambatan terhadap complience (kenyamanan ). contoh apbaila ada hambatan untuk terjadi persesusaian obat dengan penyakitnya , misal pasien sulit menelan kapsul yang agak besar, tapi pasien memperoleh kaspul itu, maka farmasis harus mengubah kapsulnya (sedian ) dalam bentuk serbuk.

   c. konsultation—>memberikan konsultasi(konseling) , dan pemberian informasi(edukasi). Ingat kan beda konseling dan pemberian informasi?

 

klo edukasi itu hanya memberi tahu sesuatu, misal diare bisa disebabkan salah makan . edukasi tidak menyangkut si pasien. sedangkan konseling farmasis tidak sekedar memberikan sesuatu informasi, namun juga mampu memecahkan problem si pasien dalam menggunakan obat maupun untuk terapi kesehatan. Contoh kongkretnya adalah apabila ada tiga obat dimana obatsalep, padat, dan serbuk. kita membecakan aturan tablet 2 kali sehari, salep  setelah mandi, dan serbuk setelah makan. Ini hanyalah edukasi informasi belum disebut konseling. Jika ditambah salep ini untuk membunuh bakteri yang ada di sekitar luka. ini juga belum konseling, tapi masih edukasi. Nah…jika kemudian kita tanya, apakah anda menggunakan obat maag (antasida)?. jika iya menjawab, iya…sementara obat yang akan kita berikan berinteraksi dengan antasida ini, maka artinya kita harus memecahkan permasalhanan agar tidak terjadi interaksi tersebut. pada kasus ini memecahkan masalahnya adalah dengan cara minum antasida dulu, dan karena antasida sudah diperkirakan akan hilang dilambung dalam x menit, maka kita menganjurkan pasien untuk meminum obat kita setelah x menit tersebut.

   d. promosi patien wellness (bagaimana agar pasien sakit menjadi sehat, dan sehat untuk tetep menjadi sehat). jadi peran farmasis tidak hanya menyembuhkan orang sakit, tapi juga mendampingi, konsultasi agar orang sehat tetap selalu sehat, atau orang dengan penyakit bawaan yang tidak bisa disembuhkan dapat hidup dengan kualitas baik berdampingan dengan penyakitnya. misalnya orang punya penyakit DM, maka farmasis bisa saja mempromosikan untuk menginformasikan kepada pasien DM (menjadi pendamping konsultasi) bagiamana merawat kaki, agar tidak terjadi luka. contoh lainnya pasien memperoleh obat fenetoin (epilepsi) maka karena kita tahu bahwa penggunaan fenetoin dalam jangka panjang (ini obat penggunaan panjang), menyebabkan guzi bisa bersifat ginggivitis, maka pasien diusakan untuk secara rutin sikat gigi.  misal lagi adalah bagaimaan farmasis dapat menjadi tempat konsultasi bagi orang yang punya penyakit tertentu.

   e. maintain caring, friendly relationship with patient

   f. telephone patient to obatain medication order called in and not picked up.

3. Management Penyakit

bagiamana pasien dengan penyakitnya dapat hidup bersamaan dan memiliki kualitas hidup yang baik. Dalam management penyakit, Farmasis harus mengatahui point –point seperti dibawah ini :

    a. Farmasis memberikan informasi kepada pasien tentang mengatsi keadaan penyakit itu/kondisi penyakit itu. misal saja, jika pasien meimiliki penyakit hipertensi, maka ndak usah banyak memikirkan yang macam-macam sampai menggalau segala. Misalnya lagi, orang yang terkena diabetes militus, kita mngkin dapat mengarahkan mereka ke perkumpulan orang –orang yang sejenis, sehingga mereka bisa lebih berdiskusi .

     b. Farmasi melakukan monitoring terhadap pasien atas hasil yagn diperoleh apakah sesuai dengan yagn diharapkan atau tidak. Misal farmasis telpon atau datang ke rumah pasien untuk memonitoring terapinya.

      c. Apakah pasiein sudah memperoleh segala hal yang digunakan untuk terapi?misal inhaler, Glukose monitoring.

       d. Menunjukkan pengarahan agar si pasien dapat ……………………(g kecatet). misal Orang DM, tunjukkan asosiasi DM, orang kanker tunjukkan aosisasi kanker

 

4. Harus memasarkan pelyanan kefarmasian. Di negara kita, pelayanan ke Farmasian belum banyak diketahui.

     a. Mengenalkan produk/jasa. Yang disebut promosi/marketing berhasil adalah banyak yang menggunakan jasa / produk, yakni orang orang yang dirberikan pengetahuan/info lalu merasa bahwa produk atau barang yagn ditawarkan menajdi jasa /bagian dalam hidupnya. Dengan demikian akan timbul “creating demand” yang menjadikan seuatu promosi keberhasilan

     Menemui doketer –doter praktek disekitarnya

     c. Aktif di anggota asosiasi profesi

    d.  Punya/mencari software yang memfasilitasi kita sehingga saat berhubungan dengan pasiein saat terjadi interaksi –interaksi obat, kita dapat menerangkan dengan baik.

 

5. Bisnis Management

seorang farmasis dari awal harus dikenalkan dengan enterpreunership/managemetn kewirausahaan. Contoh management seperti kegiatan kompounding/dispensing bisa didelegasikan, sementara Farmasis adalah menemui pasien. Dalam bisnsi management dilakukan seefektif mungkin di segala hal.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*