Mohon untuk tidak mengupload file materi perkuliahan yang berbentuk pdf, ppt, doc, xls ke Blog Staff UMY -- Silahkan upload file-file tersebut ke E-Learning MATA MERAH, WC DIMANA? (CERBUNG GELANGGANG EMERGENCY RESPONSE I) – Andy eko wibowo

MATA MERAH, WC DIMANA? (CERBUNG GELANGGANG EMERGENCY RESPONSE I)

Pagi ini ku terbangun, menatap langit yang masih samar , bernama langit matahari terbit, ..

Aku merasa hidupku tak berarti lagi jika melihat dua minggu lalu, hidupku nampak selalu bermanfaat bagi diriku maupun orang lain (Menurutku!!)…

kehilangan pekerjaan……

—————–***————————-

Dua minggu lalu…,

5 november 2010 Jam 00.00, Gelanggang, Gadjah Mada

Gemuruh gaduh, suara layaknya gluduk berkepanjangan (tapi bukan!) membuat otak selalu berstimulus tak henti berpikir, Rasaku tak juga birahi, untuk melawan rasa takut. Adrenalin menyatakan “waspada saja, tak harus memasang kuda – kuda, namun tetap waspada dalam pembaringan!”. Kadang ku bertanya, “apa yang terjadi disana?”

Entah! aku pernah terpejam atau selalu waspada pada waktu itu.

Langkah terburu – buru mendekati ruangan dimana aku terbaring, berlari lebih tepatnya, lalu dengan cepat menggedor pintu ku, “udan pasir!! udan pasir!! ayo metu! nganggo helm! ewangi awak dewe! pengungsi arep teko mrene,..!!!”. Jenggirat aku dari pembaringan, tergopoh – gopoh keluar mencoba bertanya kepada orang yang menggedor pintuku, tapi, tak pernah terlontar karena sudah keluar, berlari untuk menggedor pintu – pintu lainnya.

Di luar, sudah sibuk orang berlalu lalang, anak – anak komunitas gelanggang dominan. Ada yang sibuk berlari membawa terpal menuju Hall gelanggang, sebagian lagi membagikan masker. Ku hampiri pembagi masker, sambil meminta masker kutanyakan apa yang harus dilakukan. Sebelum tanyaku selesai, dia sudah melontarkan perintah yang bernada terburu – buru tapi tetap menguasai diri, tidak panik.“kowe njukuk o helm, sedelok meneh udan pasir, tulungono cah – cah nyiapke enggon, delok meneh pengungsi teko rene! Gelanggang arep didadeke pengungsian!” Mendengar perintah itu, sikap cekatanku timbul, berlari menuju parkiran dekat kafetaria, langsung helm aku ambil dari motorku.

Mengikuti lalu lalang manusia untuk mempersiapkan area hall, menggelar terpal biru.

bukan tenda biru!!!!

—————–***————————-

Setengah jam sampai satu jam setelah pintuku di gedor.

Sirine berbunyi mengeras mendatangi arah kami, memekakan teilinga, aku berlari menuju lobi gelanggang, melihat apa yang terjadi. sebentar saja aku heran, kenapa sebuah bus jurusan tempel mempunyai sirine?. Rasa heranku secara cepat hilang ketika melihat banyak orang sekujur badan berlumur lumpur menghambur keluar dari bus itu. Rambutnya tak nampak hitam lagi, penuh lumpur bercampur pasir. Tak sampai semenit aku terheran – heran, aku ditarik oleh wanita yang tak asing wajahnya, namun tak mengenal nama. Kali ini dengan bahasa Indonesia, kedua tangannya menceneng dua lengan, satu lenganku, satu lengan orang lain, entah siapa. “Tugas kalian adalah mengarahkan pengungsi umum ke Hall Gelanggang, lalu pengungsi lansia, balita, wanita, dan yang sakit di Ruang sidang II!!” Segera kami iyakan. Kami mulai mengarahkan, Celakanya, kebanyakan dari mereka tak menanyakan apa yang kami arahkan, justru menanyakan kamar mandi!!!

Pelajaran pertama bagi para frontliner dimanapun berada, ‘Jika ada tamu tubuhnya tidak standar bersih dan nampak terburu – buru, janganlah anda tanyakan kepada mereka apa yang ditugaskan oleh bos anda, segera saja arahkan mereka ke kamar kecil.

—————–***————————-

Mata mereka merah!!

Ku pikir tugasku ini tidak efektif, segera aku limpahkan ke orang yang di ceneng tadi, aku berlari ke UKM taekwondo, membangunkan tubuh yoyok yang ternyata belum bangun, dan segera menghidupkan komputer. Aku ketik dengan cepat, WC sambil diberi anak panah di bawahnya, aku ketik dengan font ukuran 99 . Aku print dengan mode faster sejumlah belasan. Dengan “yak – yakan” mencari kertas HVS dan spidol, ku tulis pada HVS itu, ‘PENGUNGSI UMUM’ dengan arah panah dibawahnya, dan satu lagi di lembar berbeda ‘LANSIA, BALITA, IBU HAMIL, dan SAKIT’ dengan arah panah lagi, aku tak tahu berapa lembar jumlah terbuat.

Sebelum selesai printnya , aku bawa hasil kerja yang sudah selesai. Kusaut double tipe yang untungnya ada di meja, dan berlari menuju tempat kerjaku. Entah siapa dia? aku memohon bantuan untuk menempel lembaran kertas tadi di dinding – dinding yang telah aku tunjuk. “itu , itu, itu, itu…..!, yang ini biar aku!”. Pada saat ini, mobil entah apa saja jenisnya, bus, truk, kol, dan bego (yang ini boong!) berdatangan seperti terburu – buru. Selalu saja orang sejenis yang keluar dari bus itu.

Setelah kendaran berhenti, berhamburanlah orang – orang yang ada didalamnya, Keluar menuju arah ku!

Selesai….!aku menempel tanda – tanda itu. Namun nampaknya sia – sia!. karena semua orang terburu – buru, sehingga mereka masih tetap bertanya kepada kami, “ WC ten pundi geh mas?”

Akhirnya aku sadar kesalahanku…

mata mereka memerah terkena abu, jangankan membaca, melihat sekitar saja sulit sekali…

Apakah dosa kita terlalu besar

Hingga hari dimana bumi dan gunung berguncangan datang begitu cepat

Hingga gunung – gunung itu mengembang

bulu dari gunung itu berterbangan layaknya bulu ayam

hingga akhirnya menjadi tumpukan pasir

Doaku , Tuhanku, Tuhan Esa semesta Alam, Maha Besar

belum saatnya……….

belum waktunya….

belum tiba masanya….

gunung itu Kau hancurkan sehancur – hancurnya

namun Kau Maha Tahu….

(Renungan Al qur’an surat Al muzzammil ayat 14 ; Al Ma’aarij : 9; surat Thaahaa Ayat 105; )

masih bersujud……….

malam semakin “pagi”

Jelas!!!pada hari itu…

awalku untuk menyambut para tamu.

Karena aku? seorang tuan rumah

rumahku?

Gelanggang Mahasiswa UGM.

1 Comment on MATA MERAH, WC DIMANA? (CERBUNG GELANGGANG EMERGENCY RESPONSE I)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*