Mohon untuk tidak mengupload file materi perkuliahan yang berbentuk pdf, ppt, doc, xls ke Blog Staff UMY -- Silahkan upload file-file tersebut ke E-Learning Fiksi, perjalananku -“Mar’atusshalihah Story II” – Andy eko wibowo

Fiksi, perjalananku -“Mar’atusshalihah Story II”

“Terbaring, diiringi doa. Tak pernah terfikir jika fatamorgana saat terlelap itu menuju tempat yang tak pernah dijangkau akal tapi indah dan ku inginkan.”

———————————————————————————

“Assalamualaikum, Andy…temeni kita ke masjid, sholat, andy juga belum sholat kan?” satu dari tiga orang menyapaku, memohon bantuan, peranku sebagai lelaki dibutuhkan. Dua dari tiga orang itu aku tahu tapi tidak mengenalnya, satunya…samar!! Dua dari tiga orang itu seakan – akan telah berencana, bahwa yang berbicara hanyalah satu orang, nadanya tidak mengundang, tapi sopan. Nadanya halus tapi tegas. Nadanya nyaman didengar, tapi tak menggoda. Nadanya mengajak, tapi tak memaksa. “Di tempat ku sekarang”, peran sebagai lelaki sangatlah vital, karena perjalanan menuju masjid sangatlah sulit, banyak rintangan yang engkau pun tak akan mengira, tak masuk logika. Jika digambarkan secara “ekspesit”,peranku adalah melindungi mereka dari gangguan jin. Benar adanya, Saat melewati setapak menuju masjid, kami terhalangi oleh gerakan bambu yang membujur memotong setapak. Bambu itu seakan – akan memiliki kekuatan magic sehingga bisa bergerak sendiri. Entah, entah karena ridho Allah, atau karena punya perasaan ingin melindungi tiga wanita itu, aku saat melihatnya, tiada gentar rasa takut, dan kuteriakkan “Allah Hu akbar…Allah hu akbar…” sambil berlari, kuterjang bambu itu, ku tikam bambu itu. Aku bergumul dengan sebuah bambu, tapi yang kudapatkan justru aku tak bisa mengendalikan bambu itu. Aku sempat melihat ketiga wanita itu, wajah mereka tegang, raut kecantikannya tetap nampak, meskipun terhalang oleh panik dan takut. Tapi memang, sejak dari ajakan tadi sampai saat ku bergumul dengan bambu ini, ku tak berani memandang atau bertatap mata langsung, terlalu berani menurutku. Hanya pandangan sekilas ku melihatnya. Aku terpelanting dari bambu itu, saat itu sekonyong – konyong bambu besar itu mulai menyerangku dengan memajukan ujungnya,seakan – akan ada yang memukul aku menggunakan bambu itu. Saat tepat diatas kepalaku, secara reflek aku menangkis bambu itu dengan kedua lenganku, sakit, pukulan keras itu mengenai lenganku, dua kali, tiga kali, empat kali bambu itu memukul lenganku. tapi untuk yang kelima kali, ku tangkap bambu itu, dan ku hentakkan sampai kedasar bumi. “brukk…~!!” bambu itu aku tindih dengan kedua kakiku, masih melawan, namun kuperkuat tindihannya..dan saat dia mengumpulkan kekuatan untuk melawan tindihan itu, satu dari wanita yang diam, yang tidak bicara, meneriakkan sesuatu padaku “akhi…hancurkan bambu itu, hancurkan dengan bacaanmu…..bacaan ayat kursimu!!”. Aku terhenyak, terhenyak kaget…saat itu aku masih menekan bambu dengan kedua kakiku, dan mulai aku berpasrah diri kepada Allah, dan membacakan sebuah kalimat ta’awud…aku berlindung kepada ALlah, dari godaan setan yang terkutuk..cukup satu kalimat itu, berangsur – angsur daya magic bambu hilang. Aku masih tetap menekan bambu itu, takut – takut bambu itu melawan lagi. ku yakin, daya magic itu hilang, aku berucap kepada mereka (sebenarnya ku tujukan kepada wanita yang  menyarankan aku membaca ayat kursi) “Maafkan aku ukhti!”. diam beberapa saat….”aku tak pantas jadi imam sholat yang baik bagi kalian!”. wajah mereka, semuanya kaget, mereka bingung, bingung dengan ucapanku yang tiba – tiba aku berkata  seperti itu. Diam, mereka hanya diam, kemudian, juru bicara mulai memecah kesunyian, seakan – akan mereka sudah kembali kepada aturan awal, ‘hanya juru bicara yang boleh bicara’. “kenapa andy berkata begitu?”. tetap dengan nada tegas tanpa mengundang laki – laki untuk tertarik, tapi menghormati.” Aku tak hafal ayat kursi!”. Sambil membuang bambu itu ketepi jalan, ku berdiri,  kulanjutkan perjalanan. Mereka mengikuti.

Diam, hanya diam sepanjang perjalanan, seperti awal sebelum peristiwa bambu. Kubah Masjid al-uswah telah terlihat, dan tugasku hampir selesai.

——————————————————————————–

Ramai disana, tapi sepertinya, yang belum sholat hanya kami. AKibat bambu tadi, kita terlambat waktu sholat. Aku menjadi imam namun aku berkata dulu kepada mereka “bacaanku tak bagus, tapi aku harus jadi imam sholat kalian!”. Pertanyaan yang tak membutuhkan jawaban. Kita berempat sholat.

———————————————————————————

Usai kupanjatkan doa, sosok orang tinggi berjenggot, bercelana cingkrang, dan mengenakan jubah menghampiriku. Wajahnya cerah, berkharisma, dan memancarkan aura ketentraman, berbeda dengan tampilanku, celana jeans, kaos lengan pendek, dan jaket punk. Sambil tersenyum ia mengucapkan salam dibarengi  dengan memajukan tangannya yang mengajakku berjabat tangan“assalamualaikum wr.wb.”. Belum selesai aku menikmati kharismatiknya, aku terhenyak kaget dan membalas salam serta jabat tangannya. Waktu singkat sekali, dan dia mengenalkan namanya. Ibnu-Hanzalah, dia sebut namanya. Aku tak tahu, apakah itu pemberian orang tuanya, atau nama yang dikenakan sendiri.  “Andy…antum andy bukan…?”sambil wajahnya menengok ke arah tiga wanita yang aku imammi tadi. Seakan – akan, dia bertanya kepada mereka, untuk meyakinkan bahwa namaku andy. “Iya…iya.!!” gagap aku dapat pertanyaan seperti ini. Aku tak tahu dimana lelaki itu mengenalku. “Afwan, boleh tahu dari mana antum tau nama saya?”. Dia menjawab dengan senyum, memandang wajahku, kemudian setelah itu melihat ketiga wanita itu, seakan – akan dia meminta ijin kepada ketiganya. “Ada yang butuh penyembuhan dari antum, dia sakit…mungkin hanya antum yang bisa menyembuhkannya!!”. Tersenyum lepas dia sekarang melihatku kebingungan. Aku memang apoteker, tapi aku bukan dokter. Aku memang bisa membuat obat, tapi aku tak bisa mendiagnosa. Memang aku punya sedikit ilmu meditasi, tapi ilmu ini masih dalam tahap belajar, belum bisa menyembuhkan. Cepat, Kusimpulkan penyakit yang akan kusembuhkan ini adalah penyakit yang bukan sakit secara badaniyah,tapi rohoniyah.  “Kenapa tidak dibawa ke dokter?” Sedikit berwibawa tapi pertanyaan bodoh. “Boleh saya mengajak antum keruangan saya, dan menjawab semua pertanyaan antum disana?”. Kebingungan lagi aku, semakin bingung, tapi ku mengangguk. Tanpa basa – basi, kami menuju suatu tempat/rumah tepatnya tanpa berpamitan dengan ketiga wanita itu. setelah kira – kira jarak limapuluh meter, aku menoleh kebelakang melihat wanita – wanita itu (ingin berpamitan), wanita itu masih melihat pergerakan kita, seakan – akan mereka telah tahu ,mau diapakan aku.

———————————————————————————

Ruangan luas, besar, tidak ada foto sama sekali, namun dari pajangan – pajangan dinding yang ada di ruangan itu aku bisa menyimpulkan bahwa orang ini adalah orang yang sangat berpengaruh dikalangannya, dan mungkin dia adalah ulama besar yang sangat berpengaruh. (aku tak tahu, karena memang aku jarang ke masjid ini, hehehe).

Dia mengambil amplop coklat besar ukuran 30×40 yang ada dimeja tamunya, lalu dia mempersilahkan aku duduk. “abdullah…abdullah….!!”..dia memanggil seseorang. sosok tubuh putih, kurus, tapi terawat, datang kepadanya. Aku prediksikan dia adalah anak dari lelaki ini. “tolong buatkan minuman, kita ada tamu!!”perintahnya, dia menurut dan kembali kebelakang tanpa bersuara seakan- akan suaranya terlalu sayang dikeluarkan, namun kesan menghormati penyuruhnya ada.

Dia memulai pembicaraan dengan basa – basi dan  aku jawab juga dengan basa – basi. “Andy sekarang bekerja dimana?” pertanyaan yang seakan – akan dia udah mengetahui semua infomasi pribadiku (alamat rumah, usia, hobi, orang tua dll). Ku jawab seadanya tanpa meninggalkan rasa hormatku kepadanya.

“Begini lho andy…..aku akan menjawab semua kebingunganmu dari tadi!” dia memulai berbicara serius. Amplop yang dipegangnya mulai dibuka, dan ditunjukkan isinya.

JEdeng…..Aku melihat Foto wanita tadi, wanita yang menyarankan aku untuk membaca ayat kursi ditengah – tengah perjalanan tadi. AKu pun semakin kebingungan dan seribu pertanyaan mulai menjamur di pikiranku.

“Ini ada surat dari dia, daftar riwayat hidupnya, kebaikan- kebaikannya, dan sampai aib terburukny ada disini, DIa ingin engkau sembuhkan, atau dengan kata lain, dia ingin engkau menjadi suaminya!!, sudah empat tahun dia menunggu hal ini, mengamatimu, dan memendam perasaannya, mungkin engkau tidak mengenalnya, dia juga tidak pernah berinteraksi denganmu, tapi dia yakin, engkau juga tahu dia mengamatimu!!?”

———————————————————————————

Surat yasin pun aku tak hafal, juz 30 pun aku tak penuhi, dan sholatpun masih melayang – layang, Yang lebih parah, akhlak ku pun bejat!!!!!…apa aku layak menjadi suaminya……!!!

———————————————————————————

aku pun tak tahu…apakah ini fatamorgana mimpi, atau keindahan yang diberikan ALlah kepadaku…Tapi aku tahu adanya suatu ketetapan,” wanita yang baik dengan orang yang baik dan lelaki yang baik dengan wanita yang baik pula (an nuur : 26)

———————————————————————————

ku ingin memperbaiki diri……..

———————————————————————————

ku terbangun dari mimpi, dan bersyukur ke pada Allah, telah menciptakan keindahan meskipun hanya dalam mimpi…

1 Comment on Fiksi, perjalananku -“Mar’atusshalihah Story II”

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*