Mohon untuk tidak mengupload file materi perkuliahan yang berbentuk pdf, ppt, doc, xls ke Blog Staff UMY -- Silahkan upload file-file tersebut ke E-Learning Habis Gelap Terbitlah Terang, Renungan Untuk Para Orang Tua dan Calon Orang Tua!!! – Andy eko wibowo

Habis Gelap Terbitlah Terang, Renungan Untuk Para Orang Tua dan Calon Orang Tua!!!

dear Temen- temen…

apa yang kamu pikirkan dengan klausa pertama dari judul tersebut? Kartini? yup..benar..Tapi apa yang kau pikirkan dengan klausa kedua dari judul?

Banyak kaum muda yang sudah tidak mengenal Buku ini “Habis Gelap terbitlah terang”. Bahkan, aku sendiri juga hanya mendengar judulnya aja, belum sempet membacanya. Tapi aku yakin, pembuat buku ini adalah wanita yang benar – benar hebat dalam perjuangannya. Kenapa aku seyakin itu??

 

image Dari Buku Tetralogi milik Pramodya Anantatour yang termasuk karya tulis sastra lama aku mengenal wanita itu. Disana disebutkan bahwa minke (tokoh utama) dalam novel anak semua bangsa (Bag. Tetralogi tsb) menyatakan kekagumannya. “Di Indonesia, wanita dari rembang itu memang tidak dikenal, tapi di Eropa gaung tulisannya amatlah merajah, hingga membuat wanita – wanita Eropa tidak percaya bahwa disuatu daerah (di Daerah R.A.Kartini) ada pembeda antara lelaki dan wanita”. Dan akibat tulisan itu, Indonesia menjadi perhatian dunia umumnya, dan dunia eropa pada khususnya. R.A. Kartini benar – benar menyuarakan suara hati wanita dimana wanita pada “saat itu” sering dijadikan “gundik” oleh kaum VOC. Bahkan kekerasan sangatlah dibebankan kepada wanita. Bahkan Kartini saat itu mengangkat derajat kaum wanita karena apa? “seorang Jendral dari Kerajaan Belanda” tidak mungkin menemuinya, hanya sebatas mengobrol serta diskusi jika RA. Kartini bukanlah wanita hebat”.

Minke juga menuliskan tentang “kelayuan” seorang kartini. Sudah menjadi takdirnya apabila “pada waktu itu” seorang kartini di pingit dan di perjodohkan oleh orang tuanya, apalagi ayahnya merupakan seorang Bupati dari rembang. Dan tahukah kalian?? Pada “waktu itu” bupati merupakan sebuah jabatan “Aparatur negara” sekaligus “raja”, rakyat harus munduk – munduk dan menyembah – nyembah. Ayahnya melihat potensi dari kartini yang dapat merubah tatanan Kehidupan masyarakat serta mengiginkan “wanitanya” menjadi wanita seperti umumnya “pada waktu itu”. Gejolak kartini, kartini bergejolak….namun, seorang wanita “pada waktu itu” harus takut dengan ayahnya, dengan kehendak ayahnya dan kesewenang – wenangannya. Kartini layu bersama tulisan – tulisannya setelah dia diperistri, lupa aku siapa yang memperistri tapi yang jelas pria itu berasal dari relasi Ayahnya yang notabenya pejabat.

Yang akan aku kritisi adalah “ pada waktu itu”. Sekarang jawablah teman – teman,

Apakah layak “pada waktu ini” dan “pada waktu itu” seorang ayah menjodohkan anaknya?

Jawaban pribadiku sampai saat ini, Ya..layak….Selama pandangan orang tua demi kebahagian anaknya, mengapa tidak. MENGAPA TIDAK, jika anaknya memang setuju secara iklas dengan perjodohan itu.

Apakah layak “pada waktu ini” dan “pada waktu itu” seorang ayah memaksakan perjodohan terhadap anaknya?

Jawaban pribadiku tentu saja tidak. BUAT PARA AYAH….BUAT PARA AYAH YANG PUNYA ANAK WANITA. BUAT PARA AYAH YANG PUNYA JABATAN. BUAT PARA AYAH YANG MENCINTAI ANAKNYA. DAN BUATKU SEANDAINYA AKU BESOK JADI AYAH. Tidak akan layak seorang ayah memaksakan kehendak anaknya, apakah para ayah juga pernah berpikir, sudahkah anakku mempunyai sosok pria yang dicintainya. mempunyai pria yang terbaik menurutnya.seandainya esok aku jadi ayah, aku akan memperhatikan hal itu ketika anakku sudah waktunya untuk menikah. (namun aku rasa prakteknya esok akan sulit)

Apakah layak “pada waktu ini” dan “pada waktu itu” seorang anak untuk menolak perjodohan yang dilakukan ayahnya?

Jawaban pribadiku “ tidak tahu”. Seandainya aku menjadi seorang pria yang wanitanya di jodohkan oleh ayahnya, maka aku akan bersiap – siap untuk iklas. Kenapa iklas? seandainya wanita itu memang benar – benar mencintai dan menyukai pria yang dijodohkan itu, untuk apa aku harus ngotot, perasaan itu tidak bisa direbut, perasaan itu mengalir sendiri. Selain itu, restunya orang tua merupakan suatu restu TUhan. Namun apabila wanitaku memiliki keinginan untuk mencintaiku, memilih aku menjadi pendampingnya, memilih aku sebagi imamnya, maka aku akan berjuang, berjuang untuk mendapatkannya…dengan artian juga mendapatkan orang tuanya, restu orang tuanya, aku akan figh..fight..dan fight…berjuang.

Bagaimana jika aku menjadi wanita itu? seandainya aku jadi wanita itu maka apabila memang benar – benar orang yang dijodohkan itu cocok denganku, maka aku akan memilihnya. dan untuk orang yang saat ini menjadi pilihanku?harus aku apakan? Mungkin awalnya akan terasa sakit, namun ini lebih baik, aku akan meninggalkan secara baik – baik dan secara terbuka, berbicara sambil nge’teh sariwangi’ nampaknya dibutuhkan. Namun jika memang aku sudah mencintai pria yang aku pilih, maka aku akan membantu pria itu untuk merebut hati ayahku, merebut hati orang tuaku. Dan aku akan mengungkapkan perasaanku kepada orang tuaku bahwa aku telah mimilih, dan aku mohon, restuilah hubungan kami. “Pada waktu ini” dan “pada waktu itu” tidak lah sama. Percayalah!!!!

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*